Tampilkan postingan dengan label BNPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BNPT. Tampilkan semua postingan

BNPT Gelar Rakornas Bangun Kebersamaan Progran Deradikalisaai,

Minimnya jumlah personil maupun anggaran pada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bertempat di Hotel Golden Beutiqe Jakarta, BNPT menggelar Rapat Koordinasi bersama jajaran Kepolisian RI, TNI, Kemenkumham serta Pemerintah Daerah seluruh Indonesia, salahsatu agenda adalah untuk bersama-sama mengatasi masalah Tetorisme khususnya dalam program Deradikalisasi Napi Kasus terorisme di Indonesia. 

Kepala BNPT Komjenpol Drs. S Usman Nasution, SH.MH menegaskan, bahwa saat ini masih banyak pelaku teror yang sudah kembali ke masyarakat, dan akan banyak lagi kelimpok radikal yang akan keluar dari binaan lembaga pemasyarakatan/Rutan. Mereka akan kembali ke rumah masing-masing dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia, sehingga perlu upaya pendekatan maupun upaya pembinaan agar mereka tidak lagi melakukan aksi teror di masyarakat, ini butuh upaya secara bersama-sama. 

Masalah lain adalah bagaimana para terpidana kasus terorisme, yang saat ini masih berada di binaan lapas di beberapa daerah, bagaimana mereka bisa sadar dan tidak radikal lagi, demikian juga agar mereka tidak menyebarkan ajaran radikal pada warga binaan yang lain, kita ingin ada tim yang dibentuk secara bersama-sama untuk melakukan pendekatan pada mereka yang masih di lapas, kita ingin seluruh komponen bangsa ini untuk bersama-sama mengatasi masalah terorisme di Indonesia, harapnya.
Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna Laoly juga menegaskan, bahwa pihaknya juga akan terus melakukan pembenahan dalam upaya Deradikalisasi bagi warga binaan kasus terorisme yang saat ini menghuni di beberapa lapas, karena para napi ibarat orang sakit yang harus disembuhkan,dan Napi terorisme memang perlu mendapatkan perlakukan yang berbeda dengan kasus lain, dan pihaknya berharap agar

Pihak BNPT terus bekerjasama untuk berpartisipasi memberikan dukungan program deradikalisasi di lapas-lapas, paparnya. (Nrl).
Readmore »

Masyarakat Diminta Waspadai Ajaran GAFATAR

Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) merupakan organisasi yang memiliki ajaran sesat, dimana anggotanya tidak mewajibkan Sholat, Menunaikan Ibadah Haji, Zakat serta ajaran Islam lainnya, oleh dan GAFATAR telah nyata-nyata menodai Islam, oleh sebab itu Masyarakat diminta waspada terhadap gerakan ini.

Menurut Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, DR. KH. Ahmad Syafi’i Mufid, bahwa GAFATAR dulunya adalah KOMAR (Komunitas Militan Abraham), dan KOMAR dulunya adalah Al Qiyadah Al Islamiyah yang dipimpin Ahmad Muzadeq, dan Al Qiyadah Al Islamiyah   dulunya adalah NII KW9, yang ingin mendirikan negara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi GAFATAR adalah gerakan yang terus bermetamorfose dari gerakan NII KW9.

Dan setelah dilarang GAFATAR juga telah berganti nama lagi, dengan nama Negara Karunia Tuhan Semesta Alam, dilihat namanya saja sudah jelas yaitu Negara Allah, disini punya agenda tersembunyi yaitu mendirikan negara di dalam negara, dimana kalau dilihat lebih dalam, anggotanya direkrut dari anak-anak Muda yang sedang galau, sedang bermasalah, kemudian di ajak serta dihilangkan identitasnya, mereka bukan melakukan pengajian tetapi kajian menggunakan model dekonstruksi dengan menanamkan ajaran-ajaran yang mereka yakini, untuk menjadi Negara Karunia Semesta Alam. Orang di culik dan dipindahkan kemudian diberi jabatan mulai dari Lurah, Camat, Bupati dan jabatan lain, dijadikan pegawai seperti di pemerintahan, dan pemimpinnya adalah imamnya yaitu Ahmad Musadeq.

Meskipun gerakannya selama ini bersifat sosial, seperti membagi-bagi Sembako dan membersihkan lingkungan, tetapi idiologi mereka telah mencederai Islam, dimana organisasi ini dengan nama Islam, tetapi ajarannya tidak mewajibkan Sholat, tidak mewajibkan Ibadah Haji, tidak mewajibkan puasa, bayar zakat, Infaq serta ajaran Islam lainya, dan pimpinannya menyebut dirinya Masih Ma’ud (Masih itu Almasih) dan (Ma’ud itu yang di janjikan), jadi mereka mencapur adukkan ajaran Islam.

KH. Ahmad Syafi’i Mufid meminta pada seluruh masyarakat Indonesia untuk berhati-hati dengan gerakan-gerakan seperti itu, karena GAFATAR memiliki idiologi yang ingin menghancurkan idiologi negara, mereka ingin menghancurkan idiologi Pancasila, ingin mendirikan tatanan baru yang tidak sesuai dengan kesepakatan bangsa Indonesia, yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

Disamping itu GAFATAR juga nyata-nyata menghancurkan Islam, meskipun gerakannya mengatasnamakan Islam, padahal mereka itu meninggalkan ajaran Islam, bahkan menodai ajaran Islam, inilah gerakan yang berbahaya, oleh sebab itu orang tua harus waspada, anaknya mengikuti gerakan apa, dan berkumpul dengan siapa, kalau ada hal, tingkah laku aneh,  mestinya segera dilaporkan pada Majelis Ulama, Ormas Islam atau lembaga Islam lainnya, dan pada akhirnya dilaporkan ke Kepolisian, pinta KH. Ahmad Syafi’i Mufid.
Readmore »

Panglima TNI Apresiasi Kinerja POLRI dan TNI

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengapresiasi kinerja Polri-TNI yang cepat menangani teror ledakan dan penembakan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Menurutnya, itu bukti bahwa Indonesia tidak bisa diancam ISIS.

"Saya mengapresiasi kepada pihak kepolisian mampu mengatasi bersama Pangdam Jaya dan jajarannya," kata Gatot dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

"Saya mengingatkan bahwa kita bisa mengatasi dalam sesingkatnya hanya 4 jam maksimal dan normal kembali," sambung jenderal bintang empat ini.

Dalam peristiwa ini ada 7 orang yang meninggal. Rinciannya 5 orang merupakan pelaku teror dan dua lainnya adalah seorang warga Kanada dan seorang WNI.

"Saya harap kita semua sepakat bahwa NKRI tidak bisa diancam ISIS, ini sebuah pesan," imbuhnya. 

Gatot mengajak pemerintah, aparat dan masyarakat bersatu memulihkan keadaan. "Jangan membuat resah negara lain," tegasnya.

Readmore »

Ledakan Bom Thamrin Jakarta, Diduga ISIS

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian dalam jumpa pers di Istana Merdeka di Jakarta, Kamis petang, menjelaskan mengenai kronologis serangan bom di kawasan Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Kamis.

Menurut Kapolda, peristiwa terjadi lebih kurang jam 10.50-10.55 WIB. Terjadi kontak senjata dengan anggota Polda Metro Jaya, namun kemudian situasi dapat dikuasai dalam waktu lebih kurang 20-30 menit.

Peristiwa terjadi diawali dengan serangan di Starbucks Cafe yaitu masuknya satu orang pelaku dan diawali dengan ledakan bom bunuh diri.

Aksi itu mengakibatkan adanya korban luka-luka dan kepanikan, kemudian pengunjung cafe yang saat itu ada, keluar berhamburan.

"Ternyata di luar kafe sudah ada dua orang lagi teroris yang menunggu, dan melakukan penembakan kepada dua orang, salah satunya WNA warga Kanada yang meninggal dunia.

Tito menyebutkan pada saat yang sama, ada dua orang yang menyerang Pospol Lalu Lintas di Simpang Sarinah. Saat itu ada satu orang anggota Polsek Menteng yang sedang bertugas di sana. Pospol diserang dengan bom bunuh diri sehingga anggota polisi terluka, sementara pelakunya meninggal dunia.

Saat itu, lanjut Tito, ada satu warga masyarakat juga yang terkena pecahan ledakan dan juga meninggal dunia. Pada saat itu juga ada tim dari personel Polda Metro Jaya yang akan melaksanakan pengamanan demonstrasi di Monas dipimpin oleh Kabiro Operasi.

"Saat itu pas sedang ada di situ langsung berhenti, dan kemudian mendengar ledakan turun, dan kemudian diserang menggunakan tembakan dan lemparan granat atau bom rakitan yang mirip granat," jelasnya.

Kemudian terjadi kontak tembak, anggota Polsek yang ada di sekitar Sarinah dan di jalan yang ada di sekitar Sarinah membantu sehingga ada empat orang anggota kepolisian Polres Jakarta Pusat yang terkena tembakan pada bagian kaki dan perut.

"Pelaku berhasil dilumpuhkan dalam kontak tembak lebih kurang 15 menit. Dua pelaku berhasil ditembak, kemudian situasi sudah berhasil dikuasai dalam waktu kurang lebih 20-25 menit," katanya

Setelah menguasai lokasi, polisi kemudian melaksanakan penyisiran di TKP, di Starbucks maupun Pospol Lalu Lintas Jalan MH Thamrin.

"Kita undang Brimob dan Pasukan Sabhara dari Polres dan Polsek yang juga di-backup oleh Kodam Jaya melakukan pengepungan, untuk meng-clear-kan apakah mungkin ada pelaku yang lain," katanya.

Ia menyebutkan Skyline Building dimana ada Starbucks Cafe disisir lantai per lantai, dan tidak ada pelaku di sana. Kemudian Gedung Jaya juga disisir dan dinyatakan clear.

Setelah itu Polda Metro Jaya melakukan clearing device untuk meyakinkan bahwa tidak ada lagi bom lain.

Pada saat clearing device ada lagi ditemukan enam bom, 5 bom kecil sebesar kepalan tangan berbentuk granat tangan rakitan, dan satu lagi bom yang lumayan besar sebesar kaleng biskuit.

"Jadi semua ada enam yang berhasil kita amankan. Kemudian dari pelaku yang meninggal itu juga kita sita satu senpi sejenis FN rakitan," kata Tito.

Ia menyebutkan setelah olah TKP di jalan Thamrin selesai, kemudian pihaknya membuka kembali jalan MH Thamrin yang sempat ditutup dari kedua arah.

"Sementara itu olah TKP di Pospol dan kafe masih berlangsung dan hari ini diupayakan selesai, Insya Allah besok akan kita tuntaskan semua," kata Kapolda Metro Jaya itu.

Kapolda Irjen Pol Tito Karnavian juga menyatakan, bahwa pelaku teror di kawasan Jalan Thamrin Jakarta terkait dengan kelompok ISIS. "Tim kita sedang melaksanakan pengejaran terhadap jaringan pelaku yang sebetulnya adalah jaringan pelaku yang berhubungan dengan kelompok ISIS di Raqqa," katanya.

Ia menyebutkan, ISIS mengubah strateginya. Dulu strateginya hanya menggunakan operasi di Suriah dan Irak. Tapi kemudian ada perintah dari amirnya, Abubakar Baghdadi, untuk melakukan operasi di luar wilayah dua negara itu dan kemudian membentuk cabang ISIS di seluruh dunia.

"Cabang itu baik di Prancis, Eropa, Afrika Utara, Turki, termasuk di Asia Tenggara. Sel-sel ISIS yang di Asia Tenggara ada di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan lainnya," katanya.(Ant).

Readmore »

Dengan Sandi Klandestin, Tim Intelijen TNI AL Bebaskan Kapten Kapal Tangker

Minggu 20 Desember 2015, Satuan Intelijen TNI AL berhasil mengendus Terorisme yang telah menyembunyikan Kapten Kapal Tangker yang di sandera Teroris, di salahsatu gedung di Jakarta Pusat, akhirnya Tim Intelijen Gabungan TNI AL, seperti Pasukan Denjaka, Pasukan Ampibi Marinir dan Kopaska bergerak menggunakan sandi Klandestin, berusaha membebaskan Kapten kapal tersebut.

Dengan mengenakan pakaian seperti petugas kebersihan kantor, pasukan gabungan menyamar masuk di kantor tersebut, karena target ada di lantai 5, tim intelijen masuk memecah kaca dari lantari 7, dengan dentuman senjata serta tendangan, akhirnya berhasil memecah kaca dan masuk ke lantai 5, dan akhirnya Tim Intelijen TNI AL berhasil menyelamatkan korban, dan langsung menuju target berikutnya yaitu ke Muara Baru untuk membebaskan kapal tangker yang sedang di kuasai teroris, keberhasilan tersebut juga diiringi keberhasilan pembebasan kapal dari Perompak kapal, dan akhrinya Tim Intelijen Kontra Terorisme TNI AL, juga berhasil mengungkap dalang perompak kapal, yang ternyata dari jaringan terorisme internasional.



Simulasi Pembebasan Sandera dan Kapal Tangker tersebut, merupakan puncak rangkaian latihan gabungan intelijen Kontra Terorisme, dimana seluruh peserta pelatihan tidak menggunakan pakaian tentara, namun menggunakan pakaian untuk menyamar, seperti Tukang Kebun, Tukang Servis, Tukang Koran serta pelayan kantor, mereka melakukan penyamaran agar tidak dicurigai teroris, ungkap Komandan Latihan, Kolonel Laut Dedy Kalimana.

Lebih jauh ditegaskan, bahwa kegiatan Latihan Intelijen Kontra Terorisme dari jajaran TNI AL ini. Sebagai rangkaian dari latihan Intelijen Kontra Terorisme, yang digelar mulai 15 hingga 20 Desember yang di Mega Mendung Bogor dan latihan puncak di Jakarta Pusat serta Jakarta Utara.

Latihan ini merupakan kegiatan rutin TNI AL, Dalam meningkatkan kemampuan dan sinergitas TNI AL. Sehingga dengan adanya latihan intelijen terpadu ini, setiap saat mampu menjalankan misi khusus untuk kepentingan bangsa dan negara.

Personil yang mengikuti latihan intelijen melibatkan 75 personil dari 9 anggota Denjaka, 9 anggota Kopaska, 9 anggota intai Ampibi marinir, serta 28 penyelenggara latihan.

Readmore »

Sunan Kalijaga: Forum Bela Negara Dukung Program Pemerintah Bagi Warga Negara Wajib Ikut Bela Negara

Kemenhan mengumumkan kebijakan program bela Negara bagi setiap warga negara berusia 50 tahun ke bawah wajib ikut program itu,  yang nantinya selama satu bulan akan digembleng pelatihan fisik dan psikis di markas tentara.

"Dalam Bela Negara tersebut akan dilaksanakan Rindam atau batalyon, yang kerja sama dengan kepala daerah dan TNI setempat dan tinggal di asrama," kata Direktur Bela Negara Ditjen Pothan Laksamana Pertama M Faizal dalam jumpa pers di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (12/10/2015).

Ditambahkan, program pelatihannya sudah membuat secara matang standardisasinya. "Kami sudah buat standardisasi kurukulum, sudah digodok dan dirapatkan oleh kementerian lainnya. Ini akan dipakai untuk seterusnya di seluruh Indonesia. Bentuk pendidikannya, fisik harus siap sehat, kuat, dengan berlatih; psikis adalah mental," ungkapanya.

Dijelaskannnya, aturan bela negara diatur di UU Pertahanan, jadi ada kewajiban bela negara yang dilaksanakan dengan pendidikan dan penyadaran bela negara. "Kader yang sudah dibentuk harus dibina di organisasi masyarakat kader bela negara, tercatat di Kesbangpol. Mereka tidak akan kemana-mana," tutur dia.

Sementara itu, Sunan Kalijaga selaku Wakil Kepala Forum Bela Negara menegaskan, pihaknya siap mendukung program Presiden Jokowi dan Menhan RI Ryamizard Ryacudu, karena Forum tersebut di bawah naungan langsung Potensi Pertahanan Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI Laksamanan Pertama M. Faizal, dengan terus menerus mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang pentingnya “Bela Negara”, paparnya kepada wartawan usai acara.

Forum Bela Negara Republik Indonesia yang dipimpin oleh Laksaman Muda TNI Prof. Dr. Setyo Harnowo beserta jajaran dari berbagai unsur institusi dan elemen lapisan masyarakat saat ini sudah terbentuk di 33 perwakian Provinsi serta Kota / Kabupaten, sehingga dalam menjalan program pemerintah pusat Presiden Jokowi melalui Kementerian Pertahanan akan bersinergi dengan para pemimpin stake holder di daerah masing-masing.

Ditambahkan Sunan Kalijaga, target sasaran Forum Bela Negara yaitu para generasi muda harus mempunyai jiwa “Bela Negara” tak terkecuali dari kalangan artis-artis muda. “Saya beserta jajaran siap menjalankan Program sosialisasi “Bela Negara” terus menerus,” pungkasnya di Pothan Kemenhan. (MR)

Readmore »

Ormas Lakukan Sweeping Akan Ditindak

Menjelang ramadan, Polri sudah menyiapkan antisipasi terhadap kegiatan masyarakat yang berpotensi mengganggu ibadah. Selain mengantisipasi tindakan kriminal, polisi akan menindak kelompok masyarakat yang melakukan sweeping tak sesuai dengan aturan.

"Tidak ada yang membenarkan sweeping. Siapa saja yang sweeping tentu akan kami tindak," ujar Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Rupatama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2015).

Mengenai kegiatan masyarakat sendiri tentu akan ditertibkan. Hal-hal yang diantisipasi antara lain adalah tindakan kriminal seperti pencurian yang kerap muncul jelang hari raya.

"Agar masyarakat dalam melaksakanan ibadah puasa tak terganggu dengan gangguan kamtibmas, karena biasanya ada saja gangguan seperti petasan, makanan kedaluwarsa, pencurian-pencurian juga akan meningkat, kemudiaan kejahatan jalanan juga akan meningkat, nah itu yang harus kita antisipasi di samping masalah yang terkait dengan kelancaran lalu lintas," imbuh Badrodin.

Tempat-tempat yang akan diperketat pengamanannya adalah tempat ibadah, tempat perbelanjaan, dan stasiun hingga terminal. Polisi akan menekankan pada pusat-pusat keramaian.
Readmore »

Silaturahmi dan Dialog FKUB DKI dengan Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta

Kekerasan yang mengatasnamakan agama masih juga sering ditemukan di beberapa daerah di Jakarta, padahal sebenarnya kekerasan tersebut bukan suatu bagian dari ajaran agama, sehingga kekerasan yang terjadi adalah kekerasan seseorang atau oknum yang mengatasnamakan agama, dan untuk mengulas hal tersebut, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta menggelar Silaturahmi dan Dialog dengan Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta, dengan mengambil temat di Aula Gereja Katolik Santo Yakobus Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Menurut Pembicara dari Keuskupan Agung Jakarta, Romo Samuel, bahwa sebagaimana yang kita kritisi bersama, sebenarnya kekerasan selama ini bukan kekerasan atas nama agama, tetapi  yang ada, adalah kekerasan oknum yang beragama, dan oknum tersebutlah yang harus mempertanggungjawabkan kekerasan tersebut, jadi jangan disamakan antara kekerasan dengan agama, agar kita semua tau kalau semua agama di Indonesia itu baik, dan tidak pernah mengajarkan kekerasan seperti itu. Jadi jangan salah tafsir, oleh sebab itu saya berharap ada pendidikan khusus baik di sekolah, keluarga maupun di masyarakat.

Disamping itu saat ini yang dibutuhkan adalah peningkatan ekonomi masyarakat, menuju keluarga sejahtera, dan juga harus diperjelas apa peran Pemerintah, Peran DPR, peran Kepolisian dan peran masyarakat itu sendiri untuk menekan adanya kekerasan di masyarakat, semua harus bersinergi membangun bangsa dan Negara.

Adanya siaran di media telavisi maupun pemberitaan di beberapa media yang menampilkan kekerasan juga harus di hindari, demikian juga peran Pemerintah seperti Kementrian Kominfo, Lembaga Penyiaran maupun DPRRI juga harus dapat duduk bersama, supaya diatur yang baik, di tataran bawah seluruh tokoh agama, pimpinan umat dan FKUB juga akan terus mensosialisasikan dan akan mengajak untuk berkomunikasi dengan yang lain, memang dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini turut mempengaruhi adanya kekerasan, padahal masyarakat Indonesia memiliki budaya yang santun, memiliki tatakrama dan adat budaya ketimuran, yang saling menghargai serta gotong royong, oleh sebab itu jika ada persoalan perlu ada solusi dengan duduk bersama, sehingga bangsa ini semakin hari semakin baik, dan bangsa ini adalah bangsa yang besar, Indonesia harus bangkit kembali menjadi bangsa yang maju dan makmur, pinta Romo Samuel.


Pembicara Dialog yang juga Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, DR.KH Ahmad Syafi’i Mufid disela acara tersebut pada wartawan juga menegaskan, bahwa intinya di dunia ini tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, tetapi ada orang atau kelompok kecil yang mencatut agama untuk pembenaran kekerasan yang mereka lakukan.

Menurut KH Syafii, bahwa kekerasan yang seringkali timbul, tumbuh karena banyak hal, seperti adanya ketidak adilan dan ketidaksejahteraan, dan hal tersebut dicarikan dalil didalam agama, kemudian orang melakukan perlawanan ketidak adilan dengan menggunakan agama, seperti aksi Demo, masalah tanah, bahkan masalah politik maupun persoalan yang tidak jelas, kemudian menggunakan agama atau mengatasnamakan suku dan golongan tertentu, yang lebih memprihatinkan kekerasan yang ditayangkan maupun yang disiarkan media cetak maupun elektronik, adalah kekerasan yang mengatasnamakan agama, oleh sebab itu FKUB akan terus membangun dialog, agar kita bisa bersama-sama membangun kedamian dan kerukunan yang sejati, paparnya.


Ditempat yang sama, Romo Antonius Suyadi juga menekankan, bahwa melalui dialog ini kita ingin memberikan semangat untuk pembaruan dalam hidup, bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu mengatasi dari nilai-nilai dasar kepercayaan, karena keyakinan setiap orang itu ingin memuliakan setiap orang, apapun yang diyakininya, bahkan orang yang tidak percaya Allah-pun, pada Tuhan Allah tetap harus kita muliakan, karena mereka sebagai pribadi manusia, oleh sebab itu pandangan perbedaan bagi setiap pribadi-pribadi orang seyogyanya jangan kemudian mengatasnamakan agama atau mengatasnamakan ajaran agama, untuk membenarkan dirinya, sehingga meniadakan orang lain yang beda pandangan, dalam kehidupan ini, oleh karena itu dengan semangat dan jiwa yang melatarbelakangi setiap pribadi umat beragama, juga harus melihat pribadi yang lain itu adalah tanda kehadiran Allah ke dunia ini, sehingga boleh berbeda pandangan, tetapi semangat kebersamaan harus tetap disatukan, karena melihat orang lainpun itu juga makhluk dari Allah sendiri, jadi

tidak boleh kekerasan dimunculkan karena membela Agama atau membela Allah, karena Allah tidak perlu dibela karena Allah itu Maha Besar dan Maha Kuasa, demikian juga Agama tidak perlu dibela, karena Agama itu memuliakan manusia, membela manusia untuk menemukan jatidirinya, menemukan nilai hidupnya, menghantarkan manusia untuk mencari siapa itu penciptanya bagi dia, kita tidak perlu menyamakan semua orang  dalam iman dalam kehidupan, dalam kebribadian, dan insan ini menjadi tanda kehadiran yang Maha Pencipta bagi kita semua, jadi tidak perlu kawatir satu sama yang lain akan saling mempengaruhi, karena satu dengan yang lain akan saling menghormati, kalau merasa kita sama-sama makluk Tuhan dalam kehidupan sendiri.

Sementara Forum Kerukunan Umat Beragama sebagai kehadiran perwakilan umat beragama, hendaknya dalam membangun kerukunan yang sudah baik ini, nantinya bisa membawa kembali ketempatnya masing-masing dengan tetap membangun semangat kebersamaan dan kerukunan persaudaraan sejati yang kita bangun bersama, dan bisa menjadi lilin-lilin kecil serta cahaya-cahaya perdamaian ditempatnya masing-masing, sehingga terbangun kerukunan yang sesuai dengan Pancasila khususnya sila ke tiga, “Persatuan Indonesia”, yang dijiwai dengan 4 sila lainnya, ungkap Romo Suyadi. (Sostenes).
Readmore »

BNPT Ajak Media Online dan Blogger Perangi Terorisme

Perkembangan media informasi dan media komunikasi seperti Website, Facebook, Twitter, Blogger, wechat, Watshap serta sosial media lainnya saat ini sudah dijadikan ajang propaganda terorisme, bahkan media internet dan game online juga telah dijadikan ajang para terorieme untuk mempengaruhi masyarakat Indonesia khususnya Remaja dan Pemuda akan kekerasan serta ajaran para teroris, oleh sebab itu untuk mengantisipasi lebih jauh, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengajak para wartawan dan pengelola Media Online, Media Cetak, Media elektronik dan para Blogger untuk memerangi Terorisme pada sosial media.

Dalam Seminar yang digelar di Rumah Makan Hijau Daun Cikini Jakarta Pusat, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menampilkan pembicara beberapa Wartawan Senior serta pakar Teknologi Komunikasi,(Pepih Nugraha/Kompasiana, Chamad Hojin/Jurnalis, Imam Wahyudi/Pakar IT UGM, Ahmad Zaki)  serta menampilkan tema "Pencegahan Terorisme Dalam Dunia Maya" dan BNPT juga meluncurkan program Tahun 2015 sebagai “Tahun Damai di Dunia Maya”.

Deputi I Bidang Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT Mayjen (TNI) Agus Surya Bakti dalam dialog tersebut menegaskan, bahwa propaganda terorisme melalui sosial media telah menjadi masalah krusial, kami mengajak para wartawan dan blogger untuk turut memerangi terorisme dalam dunia maya, serta terus mengkampanyekan Tahun Damai di Dunia Maya, ajaknya.

Website terorisme telah menyasar generasi muda, pada 2013 ada 2.650 website yang melakukan propaganda terorisme. Setahun kemudian sudah bertambah menjadi 9.800 website.

"Mereka (teroris) menjadikan internet untuk propaganda karena mudah diakses, tidak ada kontrol, punya audiens yang luas, serta tidak bisa diketahui identitasnya. Internet bisa jadi source pemberitaan para jurnalis. Inilah yang akan kita lawan dengan membangun suasana damai di dunia maya," papar Mayjen Agus.

Contoh  nyata adalah langkah Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menjadikan dunia maya sebagai alat utama dalam menyebarkan ajaran dan merekrut anggota dari kalangan anak muda dan terpelajar, tambahnya.

Sementara dalam Dialog Media, Pembicara diskusi yang juga pengasuh Kompasiana, Pepih Nugraha memaparkan, bahwa gerakan terorisme di dunia maya terorganisasi. "Mereka punya anak-anak muda yang paham media sosial dan tahu bagaimana memanfaatkan media sosial, serta sangat ekspansif. Ini membahayakan generasi muda Indonesia," ujar Pepih.

Menurutnya, ISIS punya jaringan komunikasi canggih dan menggunakan isu serta model yang sedang tren di kalangan anak muda.

"Program 'Damai di Dunia Maya' ini tidak hanya tugas BNPT saja, tetapiharus dicoba seperti TNI memanfaatkan cyber army dan intelijen di bidang internet. Pemerintah melalui kemenkominfo juga harus sigap menutup situs-situs terorisme. Selain itu, pengelola dan penggiat media juga jangan kecolongan dengan propaganda ala terorisme," ucap Pepih.
Readmore »

 

SEL SURYA

SEL SURYA