Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Semarak pesta akhir tahun 2015 di TMII


Menyambut pergantian tahun 2015 ke 2016 TMII akan menyajikan berbagai antraksi dan hiburan yg menarik bagi masyarakat, dimana tema menyambut tahun baru kali ini adalah semarak pesta akhir tahun yang dimulai 19des/dengan 3 januari 2016. Menurut direktur TMII Ade  F Meliala kemasan menyambut tahun baru inj berbeda dengan tahun tahun sebelumnya yang pasti lebih meriah variasi dan inofasi acara lebih semarak sehingga akanmenyenakan baginpengunjung yg datang bersama keluarga untuk mengisi liburan menyambut tahun baru 2016.

Kemeriaham semarak pesta akhir tahun 2015 ini akan menargetkan pengunjung sekitar 350rb orang. Selain telah menyiapkan berbagai acara hiburan menarik di penghujung tahun 2015 juga adanya tempat tempat hiburan yang selama ini di renovasi telah dibuka kembali dengan penampilan yang berbeda, seperti taman amok putra Sky Word, taman legenda keong emas.

Pertunjukan yang menarik dan speaktakuler bagi anak anak adalah penampilan  THe mpsvow circus dipanggung bhineka tunggal ika dengan 3x pertunjukan akan berlangsung dari tanggal 19 desember sampai 3 januari 2016.

Kemeriahan bazar di pakir utara dan selatan gedung pengelolah TMII . Puncak acara pada malam tahun baru akan tampil musik dangdut sagita yang akan mengoyang TMII,  akan tampil juga musik campur sari dan pergelaran wayang kulit semalam suntuk bersama dalang kondang.

Puncak tahun baru juga akan dimeriahkan kembang api dan pesta obor yang akan dipusatkan di monumen persahabatan negara negara non blok,  panggung candi bentar , panggung walls dan ajungan jawa tengah TMII. Bagi kaula muda pada tanggal 1 januari di panggung candi bentar/ akan tampil dimas band sementara dipanggung wals pengununjung dapat menikmati musik kroncong.

Bambang perwakilan manajemen juga menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan penambahan petugas keamanan dan lampu penerangan agar acara tahun baru meriah dan tetap aman.

Ketua pekan TMII, Diono,  juga menambahkan bahwa perijinan hiburan Sudah dikeluarkan Polda Metro, utk kembang api dipusatkan di arsipel dan PP IPTEK. Di pulau-pulau arsipel dipasang Obor tahun baru. Untuk Circus juga turut memeriahkan pemain  dari luar. paparnys.



Readmore »

Pekan Museum Thamrin Tingkatkan Nilai Kepahlawanan Generasi Muda

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Museum Juang 45 dan Museum Thamrin menggelar “Pekan Museum Thamrin”, dengan menampilkan beberapa kesenian Betawi, pameran produk unggulan masyarakat dalam bazar yang digelar warga sekitar juga disajikan jajanan tradisional, bahkan warga juga bisa berbelanja sambil menikmati aneka hiburan kesenian tradisional Betawi.

Dalam laporannya, Kepala Museum Sejarah Jakarta, Museum Juang 45 dan Museum Thamrin Enny Prihatini menjelaskan, bahwa Pekan Museum Thamrin digelar mulai 23 hingga 30 Oktober 2015, berbagai kegaitan digelar mulai dari Pergelaran Kesenian Betawi, Lomba Puisi, Lomba Teatrikal, Lomba Tari Betawi. Lomba Galasing serta lomba yang lain, dengan tujuan untuk membangun nilia-nilai kejuangan yang di tanakan M Husni Thamrin pada Generasi Muda dan Pelajar, serta sebagai sarana pelestarian Budaya Betawi, tegasnya.


Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, yang diwakili Kabid Pemberdayaan Masyarakat, Asiantoro menegaskan, bahwa Muhammad Husni Thamrin merupakan sosok Putra Terbaik Betawi yang juga Negara telah memberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

Banyak pembangunan Jakarta yang telah ia perjuangkan, baik dalam pembangunan sarana dan prasarana maupun fasilitas Olahraga, bahkan di rumah milik MH Thamrin ini dahulu juga menjadi bukti sejarah perjuangang bangsa, dimana Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Supratman juga pertama kali di nyanyikan ditempat ini, paparnya.

Melalui Pekan Museum Thamrin dengan berbagai penampilan kesenian serta aneka lomba yang memiliki nilai kejuangan ini, juga diharapkan akan menjadi tonggak sejarah meningkatkan nilai kejuangan pada Genarsi Bangsa serta dapat meningkatkan kunjungan museum, papar Asiantoro.



Readmore »

PT Mitsubishi Bantu Penanaman Pohon Perkampungan Budaya Betawi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Budaya kini terus berupaya menata areal Wisata dan tempat pengembangan Seni Budaya Betawi yaitu Areal Perkampungan Budaya Betawi atau yang dikenal dengan kawasan Setu Babakan. Jakarta Selatan.

Menurut Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Perkampungan Budaya Betawi, Supli Ali, bahwa untuk mendukung program pengembangan kawasan Perkampungan Budaya Betawi saat ini sudah ada Perda No. 3 tahun 2005, dimana dalam perda tersebut telah ditetapkan areal seluas 289 hektar.

Diakuinya saat ini Zona A di aeral seluas 3,2 hektar telah dibangun Tempat Pergelaran Kesenian Betawi, dan di areal yang saat ini akan di bebaskan seluas 3.700 meter yang nantinya digunakan untuk wisata Kuliner, yang ditempati para pedagang yang saat ini berjualan disekitar setu, nanti akan kita relokasi di tempat khusus kuliner Betawi, dan dalam pembinaan para pedagang Makanan pihaknya telah bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti dalam memberikan pembinaan pada Pedagang agar dapat menyajikan makanan yang sehat dan nikmat, tegasnya.

Penataan lain adalah di tengah Setu Babakan, yaitu Pulau seluas 2,3 hektar yang nantinya juga akan dibangun penginapan serta kuliner, dan pihaknya juga berterimakasih pada pihak Mitsubishi yang telah berpartisipasi dengan dana CSR nya untuk menanam pohon langka yang dahulu tumbuh subur di tanah Betawi, seperti Pohon Duku, Kecapi, Jamblang, Buni, Rambutan dan lainnya.

Readmore »

Kolektor Buru Naskah Kuno, Pemerintah Himbau Takjual ke Kolektor Asing

Pada masa penjajahan Belanda, banyak Naskah-naskah Kuno yang ditulis pada masa Kerajaan di beberapa wilayah Nusantara dibawa ke negeri Belanda, sehingga jika kita ingin mempelajari karya tulisan masa kerajaan di Nusantara, maka kita harus pergi ke Perpustakaan Pemerintah Belanda, dan kita tidak sadar, kalau saat ini banyak kolektor baik kolektor dalam negeri maupun asing, gencar memburu naskah kuno yang dimiliki masyarakat.

Beberapa Naskah Kuno saat ini sudah banyak yang keluar dari wilayah Indonesia, seperti ke negara Malaysia, Amerika dan Australia, karena Naskah Kuno merupakan karya intelaktual yang luar biasa nilainya, sehingga negara yang kaya,  berani membeli dengan harga tinggi, sehingga banyak kolektor lokal maupun perorangan yang menjual karya Naskah Kuno, baik yang tertulis dalam bahasa Jawa maupun bahasa Arab yang sudah berpindah ke Malaysia dan Amerika. Hal tersebut diungkapkan Kepala Perpustakaan Nasional, Sri Sulastri, disela acara Festival Naskah Nusantara yang digelar di Areal Perpustakaan Nasional, di jalan Salemba Jakarta Pusat 14 hingga 17 September 2015.

Lebih jauh Sri Sulastri menegaskan, bahwa pihaknya terus mengajak Pemerintah Daerah Provinsi di seluruh Indonesia untuk kembali mengumpulkan Naskah Kuno di daerah masing-masing, saat ini baru 6 Provinsi yang peduli mengumpulkan naskah kuno, sementara untuk Pemeritah Daerah Kabupaten/Kota masih sedikit yang peduli akan keberadaan naskah kuno. Oleh sebab itu daerah lain agar dapat meniru Provinsi yang telah memiliki perpustakaan daerah, yang khusus merawat karya Naskah Kuno.

Adanya penjualan Naskah Kuno ke Negara luar, Sri Sulastri mengaku tidak bisa membendung, sebenarnya Perpustakaan Nasional sudah mengambil langkah mengatasi hal tersebut, dimana Perpustakaan Nasional siap menerima koleksi Naskah Kuno, jika ada kolektor maupun perorangan yang ingin menjualnya, dan jika ingin merawat, Perpustakaan Nasional juga akan membantu untu merawatnya, kita terus melakukan mediasi pemilik barang koleksi Naskah Nusantara, kalau kurang terawat kita kawatir akan rusak, oleh sebab itu kita siap membantu merawat agar naskah tersebut tetap awet,  dan kita juga akan membuatkan duplikatnya untuk membake up naskah, agar nilai sejarah dan budaya warisan leluhur tersebut tidak hilang, jadi kalau ada yang mau menjual jangan ke kolektor asing, silahkan ke Perpustakaan Nasional saja, harapnya.

Diakuinya saat ini Perpustakaan Nasional RI menyimpan lebih dari 10.634 judul Naskah Kuno, dan jika naskah tersebut dikaji, diteliti dan dibedah serta dicermati oleh masyarakat secara luas, maka akan ditemukan benang merah masa lampau sampai sekarang, sehingga akan tumbuh kearipan manusia nusantara yang mampu memupus kebencian, pertikaian antar etnis dan menggantinya dengan rasa persuadaraan untuk membawa perdamaian, oleh sebab itu dengan digelarnya Festival Naskah Nusantara ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kearifan lokal Nusantara, tegasnya.

Readmore »

H Mandra dan H Syahrial Terima Penghargaan KOMBET AWARD 2014

KOMBET AWARD sebagai penghargaan tertinggi dari Yayasan Komedi Betawi pada Seniman maupun Tokoh Masyarakat yang telah berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Betawi, pada tahun 2014 kali ini diberikan pada seniman Betawi H Mandra serta Tokoh Masyarakat yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan DKI dan saat ini menjadi anggota DPRD DKI, H Syahrial.

H Mandra adalah sosok seniman  Betawi yang turut membesarkan Komedi Betawi (Kombet), suatu kesenian Lenong Modern yang saat ini semakin digemari masyarakat, dan berkat jasa H Mandra saat ini Kesenian tradisional Komedi Betawi telah mampu melahirkan seniman dan Komedian Betawi yang sejajar dengan artis ibukota.



H Syahrial saat menjabat Kepala Dinas Kebudayaan DKI serta dua periode dipercaya masyarakat menjadi wakil rakyat di DPRD DKI, juga telah banyak berjasa dalam mendukung pergelaran kesenian Komedi Betawi, sebagai bentuk pengembangan dan pelestarian budaya Betawi, inilah yang menjadi pertimbangan Yayasan Komedi Betawi memberikan penghargaan Kombet Award, ungkap Syaiful Amri Sutradara yang juga Ketua Yayasan Kombet.

Readmore »

Sudin Kebudayaan Jaktim Gelar Pesta Seni Pelajar Tingkat Kota

Jakarta Timur merupakan wilayah yang memiliki banyak sanggar kesenian tradisional maupun kesenian modern yang tumbuh dan berkembang, baik ditengah masyarakat maupun di sekolah-sekolah, dan untuk memberikan ruang apresiasi seni, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar kegiatan lomba berjenjang “Pesta Seni Pelajar”, kegiatan lomba tersebut dimulai dari tingkat Kecamatan, Kota Administrasi/Kabupaten Kepulauan Seribu hingga tingkat Provinsi, dan untuk tingkat Kota Administrasi Jakarta Timur, Suku Dinas Kebudayaan menggelar Pesta Seni Pelajar dengan menggelar 9 mata lomba di Aula BKOW Duren Sawit, Jakarta Timur, dan dibuka secara resmi oleh Wakil Walikota Jaktim H Husein Murad.

Dalam laporannya Kasudin Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Timur, Husnison Nizar menjelaskan, bahwa kegiatan Pesta Seni Pelajar ini melombakan 7 jenis lomba, diantaranya Lomba Menggambar tingkat TK, Lomba Tari Daerah Tingkat TK, Lomba Tari Daerah tingkat Sekolah Dasar, Lomba Paduan Suara SD, Lomba Paduan Suara SMP, Lomba Tari KReasi SMP dan Lomba Vokal Grub SMA. Pesta Seni Pelajar ini merupakan kegiatan berjenjang yang digelar mulai dari tingkat Kecamatan dan saat ini tingkat Kota Jakarta Timur, dimana peserta kali ini adalah pemenang tingkat Kecamatan untuk memperebutkan juara tingkat Kota Jakarta Timur.

Kegiatan Pesta Seni Pelajar ini juga sebagai ajang kreativitas seni anak didik yang selama ini belajar kesenian, baik seni Tari maupun Seni Suara di sekolah, dimana selama ini mereka belajar melalui kegiatan Ekstrakurikuler, maka kita berikan ruang untuk berseni dan berkreasi, dan kegiatan ini  juga diharapkan kegiatan Ekstrakurikuler kesenian di sekolah dapat terus ditingkatkan, paparnya.

Sementara dalam sambutannya, Wakil Walikota Jakarta Timur, Husein Murad, saat membuka Pesta Seni Pelajar Tingkat Kota Jakarta TImur di Gedong BKOW menegaskan, bahwa pihaknya mengapresiasi apa yang dilakukan Sudin Kebudayaan dalam Pesta Seni Pelajar ini, karena Jakarta Timur merupakan wilayah yang banyak memiliki Sanggar Seni, baik di Masyarakat maupun di Sekolah, sehingga kesenian tradisional akan tetap lestari dan berkembang di Jakarta Timur.

Kasie Pemberdayaan Masyarakat Sudin Kebudayaan Jaktim, Catur juga menambahkan, bahwa para pemenang dalam lomba tingkat kecamatan ini akan diikutsertakan dalam lomba Pesta Seni Pelajar tingkat Provinsi yang akan digelar pada 15 – 17 Oktober mendatang, dan dengan lomba kesenian tradisional dan kreasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan kecintaan generasi penerus bangsa akan kesenian tradisi yang beraneka ragam ini, demikian juga saat mereka dewasa atau jadi pemimpin di negeri ini juga akan memiliki tanggung jawab dalam pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional di Indonesia, harapnya. 
Readmore »

Wujud Kepedulian Budaya Betawi, Pemkot Jakarta Timur Meriahkan Lebaran Betawi

Pemerintah DKI Jakarta bersama dengan Dinas Pariwisata dan BAMUS (Badan Musyawarah Masyarakat Betawi) menggelar acara Lebaran Betawi 2014 di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara tersebut juga diikuti dengan penampilan Rumah Adat yang ditampilkan 5 Pemerintah Kota dan 1 Kabupaten Kepulauan Seribu. Acara ini merupakan bentuk silaturrahmi masyarakat Betawi dengan sesama masyarakat Betawi dan juga masyarakat Jakarta. Jadi, Betawi harus tetap hidup ditengah-tengah keragaman budaya Jakarta karena ini merupakan bentuk pelaksanaan kearifan lokal yang diamanatkan oleh Undang-Undang.

Rumah Adat Walikota Jakarta Timur yang juga didukung Rumah adat 10 Camat se-Jakarta Timur, memperoleh sambutan meriah bagi pengunjung acara akbar tersebut, ada yang sekedar melihat-lihat aneka kesenian, berfoto dengan tokoh masyarakat, namun juga ada yang turut menyantap sajian makanan khas Betawi yang disajikan di Rumah Camat serta Rumah Walikota.

Disela acara tersebut,  Kasudin Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Timur, Husnison Nizar saat ditemui wartawan menjelaskan,  bahwa dalam Lebaran Betawi kali ini, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur lebih menonjolkan Seni Budaya dan Kuliner Betawi, karena saat ini diwilayah Jakarta Timur masih banyak Sanggar Seni maupun Musik serta Grub Lenong tradisi, yang harus di tumbuh kembangkan, komitmen tersebut diwujudkan dengan memberikan kesempatan para seniman di Jakarta Timur untuk tampil dan berseni di Panggung Lebaran Betawi sebagai iven nasional yang sudah digelar ke 7 kalinya.

Untuk tema saat ini adalah “Kembali Ke Fitri Membangun Jakarta”, dimana Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur di hari yang Fitri ini ingin terus membangun budaya Betawi sebagai Budaya asli masyarakat Jakarta, baik dibidang Kebudayaan, Kesenian tradisional, Makanan tradisional hingga bangunan dengan cirikhas Betawi, sehingga Seni Budaya dan Kuliner Betawi akan semakin dicintai dan ada dihati warga Jakarta, tegas Sony.

Untuk kesenian yang ditampilkan baik di Panggung Walikota maupun Panggung Gubernur, seperti Tari Betawi, Musik Gambang Kromong, Musik Pop Betawi tari Zapin, sementara bintang tamu yang dihadirkan diantaranya Mpok Nori, Kubil, Rita Hamzah, Jaya, Pelawak Masnur Mpok Munaroh serta artis lainnya, yang keseluruh grub kesenian yang ditampilkan adalah seniman yang ada di Jakarta Timur, tambah Husnison Nizar.

Pada Lebaran Betawi di hari pertama, Rumah Walikota Jakarta Timur ditempati Wakil Walikota Jakarta Timur, demikian juga 10 Camat se-Kota Jakarta Timur, terlihat menyambut tamu yang berlebaran, disela acara tersebut Wakil Walikota Jakarta Timur, H Husein Murad pada wartawan menjelaskan, bahwa melalui moment Lebaran Betawi ini adalah komitmen dalam melestarikan Budaya Betawi.

 Pemerintah Kota Jakarta Timur  menampilkan aneke makanan khas Betawi seperti Selendang Mayang, Kue Cucur, Nasi Kebuli, Gabus Pucung, Kerak Telor, Bir Pletok, sementara kesenian juga dihadirkan untuk menghibur masyarakat, kegiatan ini sebagai wujud apresiasi Budaya Betawi, oleh sebab itu silahkan nikmati aneka Seni, Kuliner maupun silaturahmi yang ada disini, pintanya.
Readmore »

KUNNJUNGAN MANCANEGARA 2014;FORUM PEMUDA BETAWI MENUJU EROPA

Berbagai wilayah mancanegara memang menarik untuk dikunjungi,salah satunya adalah Eropa. Eropa adalah salah satu benua di dunia ini yang menarik untuk didatangi. Benua asal para bangsa penjajah itu saat ini merupakan salah satu kawasan yang maju dalam berbagai hal. Pusat kehidupan modern boleh dikatakan berasal dari sini. Dan banyak negara-bangsa dikawasan tersebut yang menjadi tolok ukur peradaban negara-negara lainnya. Fakta-fakta itulah yang menjadikan Forum Pemuda Betawi(FPB), suatu organisasi kepemudaan berlatar belakang etnis asli Jakarta namun  berwawasan  kebangsaan  tertarik  untuk  mengunjunginya.

Ketertarikan itu bukan sekedar imajinasi, namun segera terealisasi dalam kegiatan  muhibah  budaya  kebeberapa  negara  dibenua  Eropa,  seperti Jerman,  Belanda,  Belgia  dan  Perancis  sesegera  mungkin.  Muhibah mancanegara  ini  merupakan  salah  satu  program  kerja  tahunan  dari organisasi yang dipimpin salah seorang tokoh pemuda Betawi,  Rachmat HS.

Hal  ini ditegaskan Bang Rachmat HS di Gedung DPRD DKI Jakarta usai melakukan audiensi dengan Pimpinan DPRD DKI Jakarta yang belum lama  dilantik  untuk  melaporkan  rencana  keberangkatan  FPB  bersama rombongan.

“Muhibah  budaya  Pemuda  Betawi  ke  Mancanegara merupakan program rutin tahunan organisasi, dan kegiatan ditahun 2014 ini  merupakan  yang  kesebelas  kali  kunjungan  ke  luar  negeri.  Dengan mengunjungi  berbagai  negara,  menjadi  hal  yang  penting  bagi  para pemuda untuk menambah wawasan global, pengetahuan tentang budaya dan tradisi  negara  setempat,  menebalkan jiwa  kebangsaan serta  lebih mengenal  pergaulan internasional,  mengingat  Jakarta  adalah satu satu kota besar dunia, “ demikian ujar pria berkumis ini.

Delegasi FPB dalam kunjungan ke Eropa ini berjumlah 20 orang dan dipimpin oleh Erwin H. Al-Jakartaty   yang  merupakan  Wakil  Ketua  FPB,  yang  ditunjuk  organisasi sebagai  kordinator  rombongan.  “Perjalanan  muhibah  budaya  ini  tidak hanya  melibatkan  unsur  pemuda  Betawi  saja,  tetapi  juga  mengajak perwakilan  pemuda lintas  daerah dan profesi,  diantaranya ada Guntur(legislator),  Ramdan  Alamsyah  (Lawyer),  Dorry  Herlambang  (arsitek),Alyssa  (desainer),  Hasanuddin  (Ketua  KNPI  Jakarta  Utara).  Selain  anakBetawi  juga  ikut  serta  Berry  Nomensen,  Ketua  Ikatan Alumni  ResimenMahasiswa UKI yang juga mewakili  pemuda Sumatera Utara, dan yang lainnya.” tutur Erwin H. Al-Jakartaty.

Rencananya  keberangkatan  delegasi  Pemuda  Betawi  ini  akan dilepas  di  Kantor  Kemenpora  pada  2 September  2014. selanjutnya  berkunjung  ke  Frankfurt,  Berlin  (Jerman),  Den  Haag,Amsterdam  (Belanda),  Brussel  (Belgia)  dan  Paris  (Perancis)  untuk selanjutnya kembali ke Tanah Air pada 9 September 2014.

Lebih  lanjut  Erwin  menuturkan  bahwa,  muhibah ini  sangat  padat dengan  berbagai  rangkaian  kegiatan,  seperti  dialog  dengan  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Jerman, Belanda dan Perancis. Pertemuan dengan  Perhimpunan  Pelajar  Indonesia  di  negara-negara  tujuan, Pengenalan  budaya  Betawi  dan  potensi  wisata  Jakarta   kepada perhimpunan  pemuda  Jerman  dan  Perancis,  menghadiri  acara  tahunan Festival  Nusantara di  Den Haag, Belanda, selain tentunya mengunjungi tempat-tempat  khas  negara  setempat.  Kegiatan  ini  selain  menikmati obyek  wisata  kenamaan  juga  sekaligus  menjadi  bahan  study  banding yang  dilakukan  anggota  delegasi  sesuai  dengan  profesi  dan  disiplin keilmuan  yang  dimiliki,  terutama  soal  budaya  dan  pariwisata  untuk kemudian  dijadikan  bahan  laporan  sebagai  saran  kepada  pemerintah.

Muhibah  FPB ini  juga  bersifat  kenegaraan,  karena selain  mendapat kanundangan  dari  negara  tujuan  dan  KBRI,  kegiatan  kunjungan  delegasi pemuda  Betawi  ini  juga  didampingi  dan  didukung  oleh  Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI. Karena merupakan kegiatan positif dalam upaya mengenalkan budaya Nusantara,  mempelajari  berbagai hal dan mengajak kaum muda agar lebih cepat menyesuaikan diri  dengan perkembangan  globalisasi  tanpa  mengesampingkan  budaya  lokal  dan identitas nasional.


Dalam kunjungan  ini  tak  lupa  FPB  menyiapkan  sejumlah  souvenir khas  Betawi  selain  Plakat  penghargaan  serta  brosur  tentang  potensi wisata  ibukota  untuk  diberikan  kepada  pihak-pihak  berkompeten  yang ditemui di negara-negara Eropa tujuan.  “Souvenir ini merupakan simbol persahabatan  anak  Betawi  terhadap  komunitas  internasional, sebagaimana  salah  satu  tujuan  dari  negara-bangsa  Indonesia  untuk menjalin  persahabatan  antar  negara  agar  tercipta  perdamaian  dunia. Dalam hal ini kami berterima kasih pula kepada Pemerintah Provinsi DKIJakarta, khususnya Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta yang telah membantu menyumbangkan beragam suvernir berupa Plata Ondel-ondel,batik betawi dan buku-buku tentang Betawi serta potensi wisata Jakarta agar  lebih  dikenal  dimancanegara” demikian  ujar  Erwin  mengakhiripembicaraan.




Readmore »

Pengunjung Setu Babakan Nikmati Pergelaran Kesenian BLK Jaktim

Alunan musik Gambang Kromong dengan membawakan lagu-lagu karya Benyamin S, yang dibawakan seniman-seniman musik Gambang Kromong binaan Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur, mampu mengundang pengunjung Setu Babakan untuk masuk ke areal Perkampungan Budaya Betawi untuk menikmati pergelaran Kesenian tradisi Betawi.

Masyarakat pengunjung Setu Babakan tersebut, sebagian besar adalah kegiatan liburan keluarga dan kegiatan halal bihalal di Perkampungan Budaya Betawi, namun juga banyak terlihat rombongan pelajar serta muda-mudi yang menyaksikan keindahan di aeral Wisata Budaya, Wisata Kuliner dan Wisata Alam yang ada.

Beberapa pergelaran kesenian ditampilkan oleh rombongan tim kesenian Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur, mulai dari Tari-tarian Betawi Klasik maupun kreasi modern, Musik Gambang Kromong hingga Teater Tradisi atau yang lebih dikenal dengan Lenong Modern yang disutradarai Syaiful Amrie.


Disela acara tersebut Kepala BLK Jakarta Timur,  H Abdillah dalam sambutannya menjelaskan, bahwa Pergelaran Kesenian di Setu Babakan ini, merupakan penampilan para seniman yang selama ini telah meningkatkan kualitas seni di Balai Latihan Kesenian Jakarta Timur, agar mereka tidak sekedar berlatih dan berlatih, namun mereka juga perlu memperlihatkan karyanya pada masyarakat luas, agar mereka tidak jenuh dalam berseni,  serta dapat mengevaluasi diri kemampuannya, atas seni Tari,  Seni Musik serta Seni Teater Tradisi yang dikuasainya, kegiatan Pergelaran ini merupakan sarana apresiasi seni bagi para seniman.

Dalam kesempatan tersebut, H Abdillah juga mengajak seluruh warga Jakarta untuk dapat berpartisipasi dalam pelestarian dan pengembangan Seni Budaya tradisi, karena Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta memiliki 5 Balai Latihan Kesenian, di 5 Wilayah Kota, mereka yang tinggal di Jakarta Timur silahkan datang ke jalan Haji Naman Pondok Kelapa, Kalimalang Jaktim, untuk belajar Seni Tari, Seni Rupa, Seni Musik Tradisi serta Seni Teater Tradisi yaitu Lenong atau Komedi Betawi, di BLK Jakarta Timur masyarakat juga bisa belajar kesenian daerah lain, seperti Tari Bali, Tari Sunda, Tari Jawa serta kesenian lain, ajaknya.  


Readmore »

Disparbud DKI Gelar Pertunjukan Seni Budaya Betawi di TMII

Iring-iringan musik Tradisi Betawi serta sepasang Ondel – ondel meramaikan halaman Anjungan Provinsi DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mereka menyambut tamu khusus yaitu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan tokoh Betawi lainya, yang kemudian dilanjutkan dengan Palang Pintu untuk mempersilahkan tamu khusus masuk dalam kegiatan Pertunjukan Seni Budaya Betawi TMII 2013, acara tersebut merupakan perhelatan akbar Kesenian Betawi yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI di Taman Mini.

Manajemen TMII yang diwakili Koordinator Anjungan, Sigit S dalam sambutannya menegaskan, bahwa TMII menyambut baik kegiatan Disparbud bersama Anjungan DKI dalam menggelar pentas seni tradisi ini, sebagai bentuk pelestarian seni budaya nusantara, dan diharapkan kegiatan seperti ini akan menjadi agenda rutin untuk memperkenalkan DKI Jakarta sebagai Show Window bagi Indonesia, dan memohon dukungan lebih lanjut,  karena pada tahun 2014 mendatang TMII akan dilakukan penelitian oleh UNESCO sebagai Kawasan Ruang pelestarian budaya Indonesia, agar budaya Indonesia tetap lestari dan tidak hilang sebagaimana yang digelar di anjungan DKI ini, pintanya.

Sementara seusai membuka acara Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta H Ahmad Gozali pada wartawan menegaskan, bahwa kegiatan ini digelar sebagaimana yang diamanatkan UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara, yang mengharuskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melestarikan dan mengembangkan budaya yang tumbuh dan berkembang di DKI Jakarta, khususnya Seni Budaya Betawi, oleh sebab itu saat ini bertempat di Anjungan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menggelar kegiatan Pertunjukan Seni Budaya Betawi 2013, tegasnya.

Sementara kegiatan pergelaran kesenian betawi tersebut digelar mulai tanggal 22 hingga 24 November 2013. Yang akan menampilkan aneka kesenian betawi mulai dari Ondel-ondel, Tanjidor, Palang Pintu, Gambang Kromong, Lenong Samrah, Arak-arakan Pengantin Sunat, Permainan Tradisi anak, Lomba menggambar, Tk dan SD, Komedi Betawi, Parade Islami, Band Betawi, Atraksi Pencak Silat dan Musik Keroncong, dan diharapkan kesenian Betawi akan semakin dikenal dan dicintai masyarakat, paparH Gozali.
Readmore »

Festival Budaya Anak Bangsa 2013, Sambut Hari Anak Sedunia

FESTIVAL Budaya Anak Bangsa kembali digelar, pergelaran kesenian nusantara bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki ini, merupakan kegiatan kelimakalinya untuk merayakan Hari Anak Sedunia, ini menjadi sarana yang tepat bagi anak-anak untuk memahami budaya sejak dini. Apalagi acara yang digelar hari Sabtu dan Minggu (22 hingga 24 November 2013) di Taman Ismail Marzuki  Jakarta ini, dibuka untuk umum dan menarik untuk dinikmati anak-anak bersama Keluarga.

Pagelaran seni anak-dan remaja kerjasama Mekar Pribadi dengan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta Kementerian Kominfo RI  ini, akan menampilkan beragam budaya nasional dan mancanegara yang mempesona. Dan  diikuti ratusan peserta yang merupakan wakil dari Sanggar Seni dan sekolah-sekolah se-Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, bahkan Amerika dan Perancis, ungkap Ketua Panitia FBA 2013, Oetari Noor Permadi saat ditemui wartawan disela acara tersebut.

Lebih jauh dijelaskan, "Tujuan Festival Budaya Anak 2013 adalah untuk mengenalkan budaya dari berbagai wilayah dan negara kepada anak dan remaja agar mereka bangga dan percaya diri tampil di pergaulan masyarakat global. Dengan mengenal dan saling menghargai perbedaan, maka keragaman yang kita miliki menjadi saling menguatkan," paparnya.



Oetari juga mengaku, bahwa dalam FBA 2013 kali ini juga akan digelar Workshop internet sehat dan aman guna memacu kreativitas anak, untuk dapat menulis tentang seni budaya nusantara, sebagai khasanah budaya bangsa, dimana, disaat era informasi ini diharapkan anak-anak lebih berkreatif dalam turutserta mempromosikan budaya lokal, kita jangan hanya menerima dan mendownload saja, tetapi juga harus aktif mengembangkan budaya melalui media sosial yang ada baik melalui Facebook, twitter maupun youtube. Indonesia adalah negera kaya akan budaya oleh sebab itu harus punya strategi budaya yang jelas, kami bangga dengan Indonesia, kita ingin asah anak-anak dengan budaya, sehingga sebagai anak Indonesia harus bangsa dengan kekayaan budaya saat ini, dengan kegiatan ini kita harapkan akan menjadi pemicu dari kegiatan lain, baik tingkat sekolah, tingkat daerah maupun nasional, pinta Oetari Noor Permadi.
Readmore »

BLK Jaktim Gelar Festival Komedi Betawi

Kesenian Lenong merupakan kesenian tradisi masyarakat Betawi yang saat ini keberadaannya hampir punah, karena sudah tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan kesenian ini untuk di tanggap, sehingga para senimannya juga tidak lagi menekuni seni lenong, oleh sebab itu Dinas Parbud DKI melalui Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur berupaya mengembangkan kembali Lenong Betawi, salah satu upaya tersebut adalah dengan menggelar Festival Komedi Betawi.

Menurut Kepala BLK Jaktim Abdilah, Komedi Betawi merupakan metemorfose dari Kesenian Lenong, dimana Komedi Betawi yang dibentuk oleh seniman lenong adalah upaya meningkatkan kreativitas dan daya jual Lenong, dengan membentuk Yayasan Komedi Betawi yang juga untuk menampung seniman Lenong.

Melalui Festival Komedi Betawi ini kita juga berharap para Seniman Betawi semakin berkrativitas, apalagi mereka mengikuti Festival yang juga dinilai oleh pakar Seni, dan kegiatan ini juga diikuti oleh 24 Sanggar Komedi Betawi, kita berharap mereka dapat saling tukar infornasi dan saling bersilaturahmi, sehingga dengan kualitas seni semakin meningkat, ekonomi mereka juga semakin membaik, tegas Abdilah.

Hal senada juga diungkapkan Kadisparbud yang diwakili Kasudin Kebudayaan Kota Jaktim, Soni, pihaknya menyambut baik kegiatan Festival Komedi Betawi ini, karena dengan festival ini para penggiat seni teater tradisi dapat memperoleh kesempatan untuk tampil dan berkreasi, ini adalah wadah para seniman untuk terus berpartisipasi dalam melesterikan budaya Betawi yaitu Nenong Modern, paparnya.


Readmore »

Pergelaran Kesenian Betawi Diruang Publik

Kesenian Lenong  tahun demi tahun terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas seni dan daya jual, para seniman betawi telah sepakat untuk membentuk kesenian Lenong Modern menjadi Komedi Betawi yang kini telah banyak menghiasi dunia hiburan komedi di beberapa stasiun televisi nasional dan TV Swasta di Indonesia.

Menurut Sutradara Komedi Betawi Syaiful  Amrie, bahwa Komedi Betawi tetap mengacu pada Seni Lenong,  sebagai sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan dalam dialek Betawi Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela, serta ceritera Toponimi yaitu menceriterakan akan asal muasal nama daerah atau nama jalan maupun cerita perjuangan para pahlawan dalam memerangi penjajah kala itu.

Kesenian Lenong masa dahulu juga banyak terdapat diwilayah Jakarta Timur, dan kini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersama Balai Latihan Kesenian Jakarta Timur terus melestarikan dan mengembangkan Lenong, menjadi Lenong Modern atau lebih dikenal dengan istilah Komedi Betawi (Kombet) yang tersebut juga dilakukan agar kualitas tampil menjadi lebih menarik dan makin dicintai masyarakat, khususnya generasi muda, ungkap Ketua Yayasan Kombet yang juga artis layar kaca ini.

Sementara disela acara Pergelaran Kesenian Hasil Pelatihan Di Ruang Publik, Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur di Anjungan Jawa Barat yang menampilkan Lenong Modern/Kombet, Kepala BLK Jaktim Abdilah juga menambahkan, bahwa Pergelaran seni kali ini merupakan apresiasi seni bagi para seniman Lenong Modern serta Seni Tari Betawi yang telah belajar di BLK Jaktim, beberapa materi khusus telah diberikan pada mereka, seperti penguasaan panggung, Make Up karakter hingga Manajeman hiburan, sehingga diharapkan mereka akan lebih menguasai seni peran maupun pengelolaan panggung hiburan, tegasnya.

Pengamat Seni Tradisi, Abas Sudiana, S.Sn disela acara tersebut pada wartawan mengaku bangga dengan upaya yang dilakukan Pemprov DKI melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang memiliki komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi sebagai Budaya asli masyarakat Betawi, dimana Disparbud memiliki 5 unit pelaksana teknis Balai Latihan Kesenian di lima wilayah Kota, yang terus memfasilitasi pada seniman maupun warga dalam mengembangkan seni budaya, khususnya Betawi. Sehingga kedepan akan muncul seniman-seniman muda sebagai generasi pelestari budaya Betawi.

Kegaitan  Pergelaran Kesenian Hasil Pelatihan Di Ruang Publik seperti ini harus terus didukung, karena selama ini mereka berlatih tanpa disaksikan oleh banyak penonton, sementara untuk tampil didepan penonton, para seniman harus dapat tampil maksimal dalam membawakan, sesuai karakter mereka, dan itu juga harus seringkali dilakukan oleh para seniman, sehingga mereka akan mampu mengevaluasi diri menjadi seniman terbaik, tegas Abas Sudiana, S.Sn.



Readmore »

Pergelaran Komedi Betawi, Wujud Regenerasi Seniman Betawi

Lenong adalah kesenian teater tradisional atau sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan dalam dialek Betawi yang berasal dari Jakarta, Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela.

Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.

Kesenian Lenong tersebut tahun demi tahun terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya jual, seperti Seni Komedi Betawi (Kombet) yang digagas beberapa seniman Betawi, namun tidak menghilangkan pakem lenong itu sendiri, baik bahasa dan musiknya, dan kini Yayasan Komedi Betawi bekerjasama dengan Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur terus berupaya mengembangkan dan melestarikan seni Lenong Modern menjadi Komedi Betawi.

Menurut Sutradara Komedi Betawi yang juga ketua Yayasan Kombet, Syaiful Amrie pada wartawan menjelaskan,  bahwa dengan pembinaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui kesenian Komedi Betawi, saat ini telah banyak memunculkan seniman-seniman Betawi yang mampu bersaing di dunia entertain,  karena seninam Betawi memiliki karakter tersendiri, yaitu sedikit lucu, sehingga mampu menghiasi dunia Sinetron tanah air.

Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur kini memiliki program dengan pengembagan kesenian Lenong Modern, dan pada Pergelaran Kesenian Hasil Pelatihan Di Ruang Publik, Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur di Anjungan Jawa Barat ini, kita bersyukur dapat memberikan ruang apresiasi pada para seniman Lenong Modern untuk tampil di hadapan penonton, khususnya pengunjung TMII anungan Jawa Barat, sehingga diharapkan mereka akan dapat menganalisa serta menilai penampilan mereka, dengan demikian mereka akan terus memperbaiki diri menjadi seniman sejati, paparnya.
disamping Komedi Betawi dalam pergelaran kesenian tersebut juga ditampilkan beberapa Seni Tari Betawi Kreasi, hal tersebut merupakan bentuk apresiasi seni bagi para seniman tari yang telah belajar di BLK Jakarta Timur.

Readmore »

KOMBET AWARD 2013

Yayasan Komedi Betawi akan kembali memberikan penghargaan pada Tokoh Masyarakat, Pelaksana Pemerintah maupun Seniman yang teleh berjasa dalam Melestarikan dan Mengembangkan Budaya Betawi khususnya Kesenin Betawi, penghargaan tersebut lebih dikenal dengan "KOMBET AWARD:"

Menurut Ketua Yayasan Komedi Betawi, Syaiful Amrie KOMBET AWARD tahun 2013 kali ini akan diberikan pada Seniman Betawi JALI PUTRA (maestro Gambang Rancag dan Lenong Denes) dan rencana juga akan diberikan pada Seniman Betawi Rano Karno yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Provinsi Banten,

acara pemberian Penghargaan KOMBET AWARD 2013 akan diserahkan pada hari Selasa 26 November 2013 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, dan juga akan dihadiri beberapa artis ibukota yang turut bermain dalam acara Komedi Betawi tersebut.

dengan apresiasi ini diharapkan juga akan memacu kualitas seniman, Khususnya Komedian Betawi dalam melestarikan dan mengembangkan Budaya Betawi sebagai bagian budaya Bangsa. papar Syaiful Amrie yang juga Sutradara Kombet.

Readmore »

Aneka Kuliner dan Kesenian Betawi, Meriahkan Festival H Naman


 
Festival H Naman yang digelar disepanjang jalan H Naman Pondok Kelapa Jakarta Timur, memperoleh sambutan dari warga sekitar jalan H Naman maupun beberapa CSR Perusahaan diwilayah Jakarta Timur. Lebih dari seratus pedagang, memeriahkan acara tersebut, yang lebih menarik ibu-ibu PKK dari beberapa kelurahan yang ada, juga menggelar lomba Sayur Asem Betawi, sementara dibazar terdapat banyak makanan betawi, mulai dari Soto Betawi, Kerak Telor, Becak Bandeng dan aneka kue Betawi.



Dipanggung utama sejak pagi digelar aneka pertunjukkan, mulai dari Tari Betawi, Marawis, Pantomin, Palang Pintu, Ondel-ondel, Komedi Betawi, Musik Gambang Kromong dan aneka mainan tradisional seperti Gasing dan egrang, menurut Kepala UPT Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur, Abdillah dalam sambutannya menegaskan, bahwa Festival H Naman ini merupakan kegiatan warga Jakarta Timur untuk memberikan penghargaan pada Pahlawan Betawi H Naman.



Diakuinya anak-anak yang membawakan aneka kesenian betawi adalah binaan BLK Jakarta Timur, mereka adalah pelaku seni dari beberapa sanggar yang ada di Jakarta Timur, melalui Festival H Naman ini, kita memberikan ruang apresiasi pada para seniman untuk tampil menunjukkan kreatifitasnya, tegas Abdillah.



Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta DR Tinia Budiarti juga menegaskan bahwa Festival H Naman yang digelar kedua kali ini sudah lebih baik dari tahun sebelumnya, kini sudah diagendakan menjadi agenda tahunan, dan diharapkan partisipasi warga akan lebih besar lagi, dengan partisipasi aktif anak-anak dan remaja dalam Festival H Naman ini, juga diharapkan nilai kejuangan yang ada pada Pahlawan Betawi H Naman akan dapat tertanam pada anak-anak.



Camat Duren Sawit Drs. Abu Bakar, M.Si juga mengaku mendukung penuh kegiatan Festival H Naman ini, kalau saat ini baru Sayur Asem Betawi yang dilombakan, maka kedepan diharapkan aneka makanan betawi juga harus di perbanyak, sehingga kuliner betawi semakin dikenal luas, harapnya.
Readmore »

Kelompok Kesenian Baleganjur SEGAR Rawamangun Meriahkan Festival H Naman

Festival H Naman yang digelar dalam upaya apresiasi seni budaya Betawi, memperoleh dukungan dari beberapa Kesenian Provinsi lain, salahsatunya adalah Kesenian dari Provinsi Bali yang dibawakan oleh Kelompok Baleganjur Sekeha Gong Pura Aditya Jaya Rawamangun (SEGAR), dibawah binaan I Gusti Anom.



Kesenian Gamelan Baleganjur ini membawakan Tetabuhan Wirabhakti, adalah tetabuhan ungkapan rasa gembira bahwa para pemuda ini telah mampu berkreasi seni Bali dan mempergelarkannya dihadapan masyarakat luas, selain penabuh Gamelan prosesi pawai Baleganjur Wirabhakti ini juga diisi oleh para Putri pembawa Canang Gebogan (yang berisi buah-buahan), penari Baris dan Topeng, dan pembawa payung Bali.



Menurut Pembina Sekeha SEGAR, I Gusti Anom, bahwa penabuh kesenian Baleganjur SEGAR ini anggotanya terdiri dari para pemuda-pemudi yang mempunyai kegiatan aktif di Pura Aditya Jaya Rawamangun dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Toraja, Sulawesi, Lampung, Timur Indonesia dan Bali sendiri yang berdomisili dan Belajar di Jakarta Timur, dengan kegaitan ini juga diharapkan akan mampu menarik minat bagi generasi muda untuk bersama-sama melestarikan budaya bangsa dan membangun tali silaturahmi sesama anak bangsa, paparnya.



Bagi pengunjung yang memadati sepanjang jalan H Naman, mengapresiasi penuh kesenian tradisional masyarakat Bali tersebut, mereka tidak mau ketinggalan momen yang unik, sehingga mereka berebut untuk foto bersama, atau sekedar memotret untuk dokumen yang kemudian mereka upload di FB maupun BB.



I Gusti Ngurah Budi Suartama Jaksa, Mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Trisakti 2013 mengaku senang dapat turutserta terlibat mengisi kegiatan Festival H Naman bersama Tim Kesenian Baleganjur SEGAR Rawamangun Jaktim, semoga kegiatan ini dapat diagendakan tiap tahun, serta melibatkan seluruh komponen masyarakat kesenian Nusantara, paparnya.



Iring-iringan pawai mulai dari Drumband, Ondel-ondel, Baleganjur SEGAR hingga arak-arakan pelajar SD hingga SMA, mereka menuju makam pahlawan Betawi, H Naman, Tokoh Betawi yang juga Ketua Umum yang juga Presiden Front Betawi Bersatu (FBB) H Amirullah H Ag mengaku bangga dengan tampilnya kesenian lain selain kesenian Betawi, termasuk seni Jawa dan Seni Bali, ini menunjukkan tingginya rasa kebersamaan di Jakarta, ungkapnya.



Readmore »

Festival H Naman, Sarana Pengembangan Budaya dan Kuliner Betawi

Kalau Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki program unggulan Kaki Lima Night Market, dalam meningkatkan pengembangan kuliner dan ekonomi warga Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan melalui Balai Latihan Kesenian Jakarta Timur juga menggelar iven serupa dengan tema “Festival H Naman”, yang digelar disepanjuang jalan H Naman Pondok Kelapa, acara tersebut juga didukung beberapa pengusaha disekitar H Naman, Warga Pondok Kelapa dan CSR beberapa Perusahaan di Jakarta Timur, seperti PT Antam Logam Mulia Tbk, PT Wing, Coca Cola, Top Koffee serta produk lain di Jakarta Timur.

Holidah Fauzia M.Ag pimpinan Holidy Comunication pada wartawan menjelaskan, bahwa pihaknya bersyukur dapat turut berpartisipasi dalam invent Festival H Naman ini, karena disamping mampu meningkatkan ekonomi warga sekitar jalan H Naman, juga mampu memperkenalkan Tokoh Pejuang Betawi Haji Naman, yang mungkin sudah dilupankan warga Jakarta sendiri, sehingga nilai kejuangan yang ada pada H Naman juga tertanam pada generasi Muda.  Dan  pihaknya berharap iven ini dapat menjadi agenda rutin tahunan, oleh Balai Latihan Kesenian Kota Jakarta Timur, harapnya.

Ketua Penyelenggara Festival H Naman yang juga Seniman Betawi, Syaiful Amrie juga menambahkan, bahwa Kegiatan Festival Haji Naman yang menampilkan aneka kesenian Betawi dan aneka Lomba bertema Budaya Betawi, merupakan apresiasi seni bagi warga Jakarta Timur, karena seluruh seniman yang tampil adalah dari sanggar-sanggar seni di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, sebagian besar mereka adalah binaan Balai Latihan Kesenian Jaktim.

Untuk meramaikan acara tersebut panitia sengaja menggelar bazar aneka produk dan Kuliner disepanjang jalan Haji Naman, kita ingin beberapa masakan dan kue khas Betawi juga semakin dikenal masyarakat, dan dengan bazaar aneka produk juga akan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, kita berharap kegiatan Festival H Naman juga dapat diteruskan oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, maupun Pemerintah Kecamatan Duren Sawit, untuk kegiatan Kaki Lima Night Market di Jakarta Timur, harapnya.

Readmore »

Toni Yunus : Tidak Benar Keris Mengandung Mistik

Keris sebagai khasanah budaya Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai cagar budaya non bendawi setelah wayang dan batik, perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar pemahaman keris yang konon mengandung mistik serta menyimpan banyak jin adalah hal yang tidak benar. “Keris adalah karya seni yang memiliki falsafah yang bisa diterapkan dalam kehidupan, jadi tidak benar dan pemahaman yang keliru kalau keris itu mengandung kekuatan mistik,” Jelas Toni Yunus dari Komunitas Panji.

Keris senjata tikam yang merupakan salah satu karya seni budaya yang dimiliki oleh Indonesia, merupakan identitas dan ciri khas yang mencerminkan Indonesia sebagai bangsa yang besar.”Hal tersebutlah yang mengilhami terbentuknya Komunitas Panji Nusantara, yang bertujuan untuk mengembangkan budaya perkerisan agar tidak putus dan mengekspresikan hasil karya baru supaya budaya keris tidak luntur,” tegas Toni.

Komunita Panji Nusantara yang dibentuk sejak tahun 2005, menurut Toni memiliki misi untuk meluruskan pemahaman yang keliru serta mensosialisasikan khususnya kepada generasi muda bahwa keris sebagai senjata tikam agar tidak dikeramatkan. “Untuk itu Komunitas Panji Nusantara akan menggelar pameran keris yang bertajuk Keris Kamardikan,” terang Toni. Komunitas Panji Nusantara saat ini beranggotakan lebih dari 600 orang. “Yang menarik 20% anggota Panji Nusantara adalah orang asing, seperti Prancis, Jerman, Belanda, Singapura, Hawai dan Brunei Darusallam,” katanya.

Sosok Toni Yunus yang menggeluti dunia perkerisan sejak tahun 1976 kini telah mampu menciptakan beragam jenis keris. “Ada dua cara untuk melestarikan kerioni. Pertama menurutnya, harus mampu meneliti dan membedakan antara keris sepuh/tua dengan baru. “Keris sepuh harus dirawat atau ditempatkan seperti di museum-museum yang terkait dengan peninggalan budaya dan sejarah, seperti Museum Nasional, sedangkan pelestarian berkelanjutan dengan cara menciptakan keris-keris baru serta membina seniman-seniman keris,” terang Toni.

Dalam pameran Kridaya  Toni Yunus menampilkan 30 jenis keris. “Ini adalah pameran kedua yang saya ikuti dan semua keris yang dipamerkan memiliki motif atau pamor karena terbuat dari batu meteor, semua ini mengandung falsafah dan nilai0nilai kehidupan luhur sesuai dengan budaya Indonesia dan tidak mengandung mistik apapun di keris ini,” urai Toni.
Readmore »

REKACIPTA LENONG DALAM KOMBET SEBAGAI ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN ZAMAN

Oleh
SYAIFUL AMRI
NPM 1206200363



PROGRAM DOKTORAL ILMU SUSASTRA
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS  INDONESIA
2013
REKACIPTA LENONG DALAM KOMBET
SEBAGAI ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN ZAMAN

1.    Latar belakang
Sebagai Ibukota Negara, Jakarta menjadi pusat perkembangan modernisasi, pusat pembauran sekaligus menjadi pusat perubahan sosial. Dinamikanya begitu kompleks dan rumit. Hal ini menjadi tantangan ekstra besar bagi pelestarian budaya Betawi. Terutama bagi perkembangan seni tradisi Betawi. Dengan perubahan yang begitu cepat, otomatis akan memberi efek bagi perkembangan seni tradisi Betawi.
Seni tradisi Betawi, dipaksa atau secara alamiah akan mengikuti perkembangan zaman. Fakta menunjukkan, banyak kebudayaan Betawi yang mulai mengalami perubahan. Kebudayaan Betawi mengalami pergeseran baik dalam fungsi maupun bentuknya. Selain itu, banyak kebudayaan Betawi yang tak berdaya menghadapi zaman.
Salah satu kesenian tradisi yang keberadaannya cukup mengkhawatirkan adalah kesenian Lenong. Lenong adalah bentuk teater rakyat yang perkembangannya mengalami masa pasang surut. Pada awal tahun 1960-an, Lenong hampir punah. Kondisi yang menghawatirkan tersebut diakibatkan oleh kurang berdayanya teater Lenong dalam menghadapi perubahan zaman. Dapat dikatakan Lenong tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan beberapa seniman. Tahun 1970-an, Lenong dibangkitkan kembali oleh beberapa tokoh lenong, antara lain Djaduk Djajakusuma, Sumantri Sostrosuwondo, dan SM. Ardan.  
Bangkitnya Lenong juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah DKI yang mulai memberikan perhatian lebih besar kepada kesenian. Menurut Yasmine Z. Shahab dalam bukunya Identitas dan otoritas: Rekonstruksi Tradisi Betawi (2004), pemerintah pada waktu itu bersama Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), dan organisasi-organisasi Betawi lainnya, serta praktisi dan profesional seni gencar melakukan kegiatan rekacipta tradisi. Menurut pengamatan Shahab, proses rekacipta tradisi Betawi terbukti ampuh. Secara tidak sengaja, usaha pemerintah telah menghidupkan tradisi Betawi yang sedang menuju kepunahan. Orang Betawi yang pada tahun 1950-an hingga tahun 1970-an sedang mengalami krisis identitas, telah difasilitasi oleh banyak ‘Tradisi Rekacipta’ yang pada gilirannya telah memunculkan eksistensi Betawi (2004:92).
Dengan program-program rekacipta, grup-grup lenong mulai menggeliat. Lenong bahkan tak hanya dipentaskan di tengah-tengah masyarakat dalam hajatan penduduk, tetapi juga mulai dipentaskan di gedung pertunjukan seperti di Taman Ismail Marzuki (TIM). Selain itu lenong juga disiarkan di TVRI dan radio siaran swasta.
Bangkitnya Lenong yang diprakarsai oleh proses rekacipta disertai pula dengan beberapa perubahan format Lenong. Perubahan tersebut dilakukan sebagai sebuah strategi agar lenong kembali diterima masyarakat. Menurut Shahab, untuk mempopulerkan Lenong, seniman harus menekankan aspek humor, beladiri (pencak silat), yaitu dua karakteristik tipikal lenong, memperpendek waktu pertunjukan, serta menyiapkan penduduk Jakarta yang bukan orang Betawi untuk mengenal dan dapat menikmati Lenong (2004:37).
Istilah rekacipta diketengahkan Shahab merujuk pada buku The Invention of Tradition (2000) yang dieditori E. Hobsbawm dan Terence Ranger. Menurut Hobsbawm proses rekacipta tradisi telah terjadi sejak abad 18 di banyak tempat di dunia. Shahab melihat bahwa apa yang ditulis dalam buku The Invention of Tradition sesuai dengan konteks masyarakat Betawi. Orang Betawi yang pada tahun 1950-an hingga tahun 1970-an yang sedang mengalami krisis identitas, telah difasilitasi oleh banyak ‘Tradisi Rekacipta’ yang pada gilirannya telah memunculkan eksistensi Betawi (2004:92).
Proses rekacipta berarti menginginkan perubahan yang disengaja. Menurut Shahab perubahan dapat dilihat dalam beberapa bentuk, yaitu perubahan dalam penampilan seni; perubahan dalam fungsi seni; perubahan dalam pemilik seni; dan perubahan dalam konsumen seni (2004:100). Proses rekacipta tersebut adalah manifestasi dari stratategi adaptasi dari Lenong dalam merespon perubahan zaman.
Dalam buku Ninuk Kleden yang berjudul Teater Lenong Betawi: Studi Perbandingan Diakronik (1996) diulas mengenai perkembangan Lenong. Menurut Ninuk Kleden, ciri Lenong sebagai teater tradisional kini semakin pudar dan selanjutnya semakin kehilangan karakter tradisionalnya. Kecenderungannya semakin bersifat populer (pop culture). Teater Lenong Betawi semakin lama semakin surut tergerus kesenian-kesenian baru. Oleh karena itu agar tetap bertahan, perlu adanya terobosan-terobosan baru misal dengan mempersingkat durasi waktu pertunjukan, tata busana dan tata rias diperbarui, memperluas lokasi pentas misal masuk televisi dan lain-lain.
Fenomena Lenong yang semakin populer itu terlihat dengan munculnya Lenong Bocah dan Lenong Rumpi di stasiun Televisi. Kedua jenis Lenong tersebut merupakan modifikasi lenong. Meskipun menuai banyak kritik, namun kehadiran keduanya memberi angin segar bagi seniman Lenong untuk dapat tampil di Televisi.
Menurut Shahab, kebudayaan Betawi tidak akan punah karena saat ini orang Betawi sudah sangat sadar akan identitasnya. Budaya Betawi tidak akan hilang tapi yang pasti berubah, muncul dengan wajah baru tapi tidak menghilangkan yang asli. Lenong yang merupakan kesenian Betawi  saat ini muncul dengan wajah baru, tapi yang asli tetap ada. Meskipun berubah, Lenong tetap ada dan orang pasti akan menggali lagi kesenian Lenong yang asli. Yasmine menyebutkan, budaya Betawi sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan kebudayaan lain karena posisinya berada di Jakarta, pusat pemerintahan dan berbaurnya berbagai suku serta budaya.
Herdiyani dalam bukunya Bajidoran di Karawang: Kontinuitas dan Perubahan (2003:140) menyatakan bahwa sebuah kesenian yang hidup di masyarakat akan terus bergulir sejalan dengan arus perkembangan masyarakatnya. Bentuk-bentuk kesenian yang masih relevan dengan zamannya di masyarakat akan tetap hidup dengan berbagai penyesuaian, sedangkan bentuk kesenian yang tidak relevan lagi dengan massanya bisa jadi akan hilang ditelan zaman.
Salah seorang pemikir Marxis, Raymond William membahas tentang hubungan kebudayaan dengan perubahan sosial. Dalam buku Marxism and Lieratrue (1977, Raymond William mengulas konsep kebudayaan yang dominant, residual, dan emergent (121-127) yaitu konsep tentang bagaimana kebudayaan beroperasi di tengah laju perubahan sosial.  Masing-masing kebudayaan berusaha menjaga stabilitas dan keseimbangan dalam menghadapi pandangan yang selalu berubah. Ada yang tampil sebagai kebudayaan dominan, ada yang ditinggalkan atau hanya menjadi peninggalan masa lalu dan ada kebudayaan yang baru.
Menurut Williams (1977) Kebudayaan dominan adalah kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok kuasa. Kecenderungan kebudayaan dominan adalah meminggirkan kebudayaan lainnya. Sedangkan kebudayaan residual-dalam hal ini salah satunya kesenian tradisional- dapat menjadi kebudayaan dominan bila ditafsir dan direkayasa disesuaikan dengan kebutuhan zaman sehingga terbentuk kebudayaan yang baru. Dari konsep tersebut, dapat dikatakan bahwa seni tradisi bisa saja terpinggirkan bila tidak disentuh beberapa perubahan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan, menurut Herdiani (2003:43) dikatakan bahwa perubahan yang terjadi karena kemajuan, yaitu adanya kemajuan fisik, pikiran, etika dan politik, berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam meningkatnya suatu kemajuan manusia adalah rasa bosan. Ketika manusia mencapai kebosanan dalam suatu aktivitas, sudah barang tentu manusia itu akan berusaha untuk mencari atau menciptakan suasana baru.
    Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tergerak untuk meneliti perubahan-perubahan yang terjadi pada teater Lenong. Perubahan-perubahan tersebut terjadi secara alamiah dan direkacipta. Dalam penelitian ini, peneliti lebih fokus mengkaji perubahan-perubahan yang terjadi akibat proses rekacipta. Salah satu perubahan yang dimaksud adalah munculnya pertunjukan Komedi Betawi (Kombet) yang mengadaptasi teater Lenong. Pertunjukan Kombet diciptakan secara sengaja oleh Yayasan Komedi Betawi sejak tahun 1998. Dalam konsep pertunjukannya, Kombet mencoba memadukan unsur-unsur modern dan tradisi yang ada dalam teater Lenong. Di dalam penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan perubahan konsep dari teater Lenong menjadi Kombet, penyebab terjadinya perubahan dan proses rekacipta dari Lenong menjadi Kombet.
1.1.     Lenong sebagai Tradisi Lisan
Ninuk Kleden (1996) menyatakan bahwa lenong termasuk seni pertunjukan rakyat atau teater rakyat yang bersifat tradisional dalam arti keberadaannya telah beberapa turunan. Lenong juga tidak diketahui siapa penciptanya (anonim) karena ia sudah menjadi milik kolektif yakni masyarakat Betawi.
Menurut Ninuk Teater Lenong Betawi sebagai suatu pertunjukan mempunyai beberapa ciri khusus (yang tidak mustahil mengalami perubahan) antara lain:
1.    Perlengkapan pokok teater berupa panggung, dekor, sebuah meja dan beberapa kursi
2.    Pakaian pemain menggambarkan pakaian yang dipakai sehari-hari oleh komunitas teater tersebut
3.    Dialog menggunakan bahasa Melayu-Betawi
4.    Pertunjukan diiringi oleh musik gambang kromong
5.    Pertunjukan mengandung humor dan bersifat improvisasi
6.    Waktu pertunjukan dimulai setelah sembahyang isya dan diakhiri menjelang subuh
7.    Pertunjukan diselenggarakan karena suatu pesta hajat tertentu
8.    Penonton berdiri menonton sekitar panggung
9.    Tidak mengenal skenario secara mendetail
10.    Kegiatan teater lenong selalu menyangkut kegiatan sosial lainnya (1996:3)
Sebagai sebuah tradisi, dalam teater Lenong dikenal juga beberapa ritual atau kepercayaan yang dijalankan baik oleh para pemainnya maupun penyelenggara hajat. Dalam catatan Ninuk (1996), bentuk kepercayaan tersebut meliputi: Suguhan untuk perabot Lenong, Ngukup atau sajian doa-doa untuk kesuksesan, dan Susuk untuk ronggeng.
Dari karakteristik tersebut, teater Lenong termasuk ke dalam jenis tradisi lisan. Lenong memenuhi unsur tradisi dan kelisanan. Sebagai tradisi, Lenong adalah kesenian yang berkembang dan diwariskan turun temurun. Sal Murgiyanto dalam bukunya Tradisi dan Inovasi (2004) menyatakan bahwa sebuah tradisi adalah segala sesuatu yang diwarisi dari masa lalu. Tradisi akan tetap dilakukan dan diteruskan selama pendukungnya masih melihat manfaat dan masih menyukainya. Tradisi sebagai milik masyarakat dipahami sebagai kebiasaan turun temurun yang diatur dalam nilai-nilai atau norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Sebagai tradisi lisan, Lenong memiliki karakteristik sebagaimana yang disebutkan oleh Pudentia (2000), bahwa dalam tradisi lisan, unsur kelisanan memiliki peran yang sangat penting. Kemampuan penutur dalam mengingat tradisi menjadi perhatian penting. Kelisanan dalam teater Lenong terlihat dari dominannya para aktor membangun dialog secara spontan dan berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Spontanitas dalam tradisi lisan disebutkan oleh Albert Bate Lord dalam tulisannya yang berjudul “Characteristics of Orality”  dalam jurnal Oral Tradition, 2/1 (1987): 54-72 bahwa karakteristik kelisanan salah satunya spontanitas. Menurut Lord, proses penciptaan puisi lisan berlangsung pada saat pertunjukan.
    Salah satu definisi yang menggabungkan antara kelisanan dan generasi adalah Jan Vansina. Dalam buku Oral Tradition as History (1985) Vansina menyebutkan bahwa tradisi lisan adalah pesan verbal berupa pernyataan yang dilaporkan dari masa silam kepada generasi masa kini di mana pesan itu disampaikan melalui pernyataan yang dituturkan, dinyanyikan, atau diiringi alat musik. Selain itu tradisi lisan harus disampaikan secara lisan sekurang-kurangnya sejarak satu generasi. (17-18). Dari semua definisi si atas, dapat dikatakan bahwa Lenong termasuk ke dalam tradisi lisan.
1.2.     Memadukan Unsur Modern dalam Tradisi
  Istilah modernisasi lahir di negara Barat. Wacana modernisasi berkaitan erat dengan wacana pembangunan dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Tokoh-tokoh pemrakarsa teori modernisasi adalah  Max Webber, W. Rostow, dll. Teori modernisasi adalah sebuah transformasi dari bentuk tradisional ke bentuk modern. Bentuk tradisi identik dengan negara-negara dunia ketiga sedangkan modern adalah negara barat. Modernisasi melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk di dalamnya industrialisasi, diferensiasi, sekularisasi, sentralisasi dsb
Modernisasi ini tak hanya bergerak di wilayah ekonomi. Perubahan sosial juga menandakan perubahan di lapangan kebudayaan. Budaya sebagai produk kehidupan masyarakat senantiasa mengiringi perubahan sosial di sektor lainnya. Dalam dunia kesenian Indonesia yang memiliki karakteristik tradisional, kini telah lahir dan berkembang berbagai kesenian berkarakter modern. Dua bentuk tersebut hidup berdampingan. Namun dengan karakter yang berbeda, kerap kali terjadi gesekan antara keduanya. Seni tradisi pada akhirnya harus rela dikalahkan seni modern karena zaman mencerminkan modernisme itu sendiri.
  Sebagaimana telah dijelaskan di atas, teater lenong sebagai seni yang bersifat tradisional, keberadaanya mulai mengkhawatirkan. Kondisi tersebut mengundang rasa prihatin beberapa seniman Betawi. Pada tahun 1998, beberapa seniman Betawi, termasuk peneliti membentuk Komedi Betawi (Kombet) sebagai respon atas kondisi Lenong. Para seniman melihat bahwa Lenong tak berdaya menghadapi perubahan zaman. Oleh karena itu para penggagas Kombet merasa perlu untuk melakukan perubahan-perubahan. Pada tahun 2009, Kombet berusaha mengubah format tampilannya sekaligus melegalkan diri menjadi sebuah yayasan bernama Yayasan Komedi Betawi seiring dikeluarkannya keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No 8 Tanggal 21 April 2010.
   Kombet merupakan salah satu kelompok seni pertunjukan yang menggunakan keragaman dialek Betawi. Kehadiran Kombet merupakan sebuah tafsir terhadap tradisi Lenong dan sebuah upaya adaptasi terhadap zaman.  Kombet merupakan sebuah transformasi dan inovasi dari seni pertunjukan Lenong. Atau dengan kata lain, seni pertunjukan Komedi Betawi yang dipimpin peneliti ini mencoba hadir dengan  semangat  teater rakyat Betawi  yang hidup dalam konteks dan situasi  jamannya. Yang menarik dari  kelompok ini adalah kemampuan adaptasi antar personil yang  memiliki dua latar belakang disiplin yang berbeda. Sebagian  para pemain Kombet (aktor) tumbuh dari latar belakang disiplin teater modern. Sebagian lainnya dengan latar belakang disiplin seni tradisi  Betawi, yaitu Lenong dan Topeng Betawi.  
  Peneliti bersama seniman teater modern menilai bahwa Lenong harus berubah. Menjadi sebuah tradisi yang tak lekang zaman. Tradisi yang Eksistensinya kekal meski zaman terus bergerak. Untuk mewujudkan bentuk tersebut, peneliti selaku  sutradara dan pimpinan grup Kombet, yang  memiliki latar belakang pendidikan formal seni pertunjukan teater modern mencoba memasukkan unsur-unsur modern ke dalam struktur Lenong. Namun demikian, Peneliti tetap menjaga nilai-nilai tradisi dalam pertunjukan Kombet yang dibuatnya.
  Pertemuan dari dua latar belakang disiplin yang berbeda dalam sebuah kerja kreatif memang bukanlah  sesuatu yang serta merta mudah  untuk dijalani. Kesediaan untuk saling belajar dan memberi  kadang sering terhambat  oleh rasa ego  yang tidak mudah untuk dicairkan dengan seketika. Dalam hal inilah Kombet berusaha untuk menjinakan ketegangan antara ego yang mempertahankan kebiasaan lama, dan  ke-egoan dengan cara pandang inovatif.             
  Kedua kelompok antara tradisi dan modern ini memiki perbedaan dalam cara pandang. Namun mereka disatukan oleh komitmen bersama untuk memajukan kesenian tradisional Betawi ini. Kelompok modern ingin memasukkan unsur-unsur teater atau pertunjukan modern, sementara kelompok tradisi ingin mempertahankan tradisi. Sesungguhnya, pandangan kedua kelompok ini tidak sama sekali bertolak belakang karena komitmen bersama dan interaksi mereka terus melakukan negosiasi untuk mencari bentuk yang bisa diterima secara bersama.
             Kesenian Lenong memiliki struktur yang tercermin dari seni musiknya, seni sastra dan teaternya, serta seni bela diri dan tarinya, dan lain-lain. Keseluruhan unsur tersebut sekaligus dapat dijadikan sebagai sumber daya (resources) untuk merekonstruksi struktur Lenong. Reproduksi struktur tersebut salah satunya ditunjukkan melalui perubahan kesenian Lenong  sesuai dengan intensi para pelakunya yang ingin mempertahankan kesenian Lenong yang harus berkompetisi dengan jenis kesenian lainnya. Proses perubahan ini dapat dimulai dari bagaimana tradisi beradaptasi. Untuk membuat tradisi bertahan dan sekaligus lebih menarik, adaptasi perlu dilakukan di sana-sini. Namun, adaptasi tidak dapat dilakukan dengan radikal karena akan meghilangkan esensi atau identitas dari tradisi itu sendiri. Di sini terjadi perimbangan antara kebutuhan beradaptasi dan kebutuhan untuk menjaga identitas tradisi. Berdasarkan uraian di atas dapat pula dilihat bahwa semakin dipertahankan, kesenian Lenong semakin menunjukkan perubahan dalam strukturnya.
    Kehadiran Kombet dapat dikatakan sebagai upaya rekacipta atas tradisi Lenong. Rekacipta tersebut dapat tercapai karena adanya upaya perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak tertentu. Dalam teori strukturasi Anthony Giddens, pihak-pihak tersebut disebut agen. Menurut Giddens (2010) dalam buku Teori Strukturasi: Dasar-dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat (2010), teori strukturasi berupaya mengakomodasi dominasi struktur atau kekuatan sosial dengan pelaku tindakan (agen). Giddens melihat ada perdebatan antara strukturaslime dan obyektivisme. Teori ini menjadi penengah antara strukturalisme dan subyektivisme. Strukturalisme yang menekankan pada dominasi peran struktur di dalam kehidupan sosial dan menjadi kekuatan sosial yang mampu mencengkram dan mengendalikan individu-individu secara penuh. Sedangkan subyektivisme lebih menekankan pada peran dan tindakan individu aktif sebagai faktor dominan dalam suatu tatanan kehidupan sosial, karena individu bertindak sebagai agen. Padahal menurut Giddens, antara agen dan struktur  memiliki peran yang sama dan penting di dalam masyarakat.
Teori strukturasi sendiri menjelaskan konsep tentang individu yang dikatakan sebagai aktor (agency) yang memiliki peran untuk memproduksi dan mereproduksi struktur dalam tatanan sosial yang mapan. Jadi agen mampu untuk merubah dan menghasilkan struktur-struktur baru jika tidak menemukan kepuasan dari struktur yang sudah ada sebelumya. Struktur merupakan seperangkat aturan (rule) dan sumber daya (resource) atau seperangkat hubungan transformasi yang diorganisasikan secara rekursif sebagai sifat-sifat sosial.
    Kehadiran Kombet merupakan sebuah adaptasi tradisi Lenong dalam menghadapi zaman. Kombet hadir dengan inspirasi nilai-nilai tradisi Betawi yang terdapat dalam Lenong. Perpaduan konsep tradisi dan modern tersebut diharapkan menjadi sebuah solusi agar tradisi mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Dalam penelitian ini, peneliti berusaha melanjutkan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain terutama penelitian Ninuk Kleden mengenai Lenong dang Yasmine Z. Shahab mengenai rekacipta tradisi.

2.    Masalah Penelitian
  Sebagaimana telah dijelaskan di atas. Lenong sebagai teater tradisional mengalami berbagai hambatan dalam menghadapi perubahan zaman. Berdasarkan kondisi tersebut, banyak seniman yang melakukan upaya-upaya perubahan konsep atau format Lenong menjadi Lenong baru yang lebih diterima zaman. Perubahan tersebut merupakan manifestasi dari strategi adaptasi dalam menghadapi zaman. Salah satu bentuk baru yang dibuat sebagai pembaharuan teater Lenong adalah pertunjukan Komedi Betawi (Kombet). Kombet berupaya memadukan unsur modern dan tradisi yang selama ini sulit dipersatukan. Kombet tidak mengubah lenong sepenuhnya. Justru Kombet ingin mempertahankan nilai tradisi tetapi melalui kemasan modern.
  Namun demikian, kehadiran Kombet memunculkan banyak pertanyaan. Terutama dalam hal kedudukan Kombet sebagai sebuah tradisi lisan atau seni pertunjukkan modern. Pertanyaan tersebut lahir karena dalam Kombet, digunakan skenario atau cerita tertulis. Suatu hal yang jarang digunakan dalam lenong. Selain itu, beberapa fungsi dan aspek ritual yang ada dalam tradisi tentu saja tidak akan digunakan dalam seni modern termasuk Kombet. Akhirnya peneliti memandang bahwa proses adaptasi bagaimanapun akan melahirkan perubahan-perubahan yang signifikan. Peneliti ingin mengkaji sejauhmana Lenong beradaptasi dengan zaman, bagaimana proses adaptasi tersebut berlangsung dan bagaimana bentuk produk yang dihasilkan dari upaya adaptasi tersebut.
  Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1.    Bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan oleh Teater Lenong dalam menghadapi perubahan zaman ?
2.    Bagaimanakah proses terbentuknya Seni Pertunjukan Kombet sebagai bentuk rekacipta Teater Lenong ?
3.    Gejala transformasi kebudayaan apa yang terungkap dari adaptasi teater Lenong ke dalam Seni Pertunjukan Kombet?

3.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam proses adaptasi dari sebuah tradisi teater Lenong terhadap perubahan zaman. Bagi peneliti yang terlibat dalam tradisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meyakinkan peneliti tentang sejauhmana upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan tradisi agar tak mati ditelan zaman.
1.    Menyajikan deskripsi mengenai kondisi teater Lenong pada masa kini.
2.    Menjelaskan proses adaptasi yang dilakukan oleh Teater Lenong dalam menghadapi perubahan zaman.
3.    Menjelaskan bentuk strategi adaptasi tradisi Lenong agar dapat bertahan mengikuti zaman dengan kendala metodologis yang dihadapi seorang peneliti.
4.    Mengungkapkan suatu gejala transformasi kebudayaan yang melibatkan tradisi dan modernitas menuju ke satu model perubahan.

4.    Korpus Penelitian
Korpus penelitian ini terdiri dari dua kategori. Kategori pertama adalah sanggar lenong dengan karakter tradisi yang meliputi Sinar Subur, Setia Kawan (objek penelitian Ninuk Kleden) dan Sinorai. Kategori kedua adalah sanggar lenong dengan karakter baru (Kombet), meliputi Opelet Robert, Sanggar si Pitung dan Sanggar Kombet.
Kategori di atas tidaklah terlalu ketat. Dalam pengertian sistem keanggotaan sanggar-sanggar di atas bersifat lebih fleksibel. Seorang seniman lenong bisa bermain dan bergabung satu sama lain. Terutama untuk kategori kedua, salah satu karakteristik dari sanggar Kombet adalah penyatuan sejumlah seniman lenong dari berbagai sanggar dengan seniman teater modern dan film/sinetron. Meskipun demikian, adanya sanggar menunjukkan adanya wujud organisasi tersendiri. Sehingga untuk keperluan korpus, sanggar tersebut masih dapat diteliti. Selain itu, korpus penelitian juga mencakup para senimannya.

5.    Sumber Data
Sumber data dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang berasal dari sumber pertama atau sumber aslinya. Data primer biasanya diperoleh dengan observasi lapangan yang menggunakan semua metode pengumpulan data original atau data yang telah direkam dalam bentuk lain tanpa ada proses penyuntingan yang mengubah substansi. Data primer dalam penelitian ini adalah berupa rekaman audio visual pertunjukan, dan transkripsi naskah dalam pertunjukan (lakon) yang sejatinya tidak ada dalam lenong.
Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain. Peneliti dapat mencari data sekunder ini melalui sumber data sekunder. Data sekunder dapat diperoleh di perpustakaan, perusahaan surat kabar atau majalah, internet organisasi-organisasi kebudayaan, biro pusat statistik, dan kantor-kantor pemerintah. Dalam penelitian ini data sekunder yang dimaksud adalah berupa teks-teks mengenai lenong dan perubahan-perubahannya. Data tersebut dapat diperoleh dari buku, artikel, makalah, atau berita baik cetak maupun elektronik (virtual) dari internet. Buku Ninuk Kleden dan data sekunder juga diperoleh melalui observasi terhadap pertunjukan-pertunjukan yang ada serta wawancara baik langsung maupun tidak langsung dengan para panjak (seniman lenong), pihak pemerintah (dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta), lembaga-lembaga kesenian dan kebudayaan Betawi, para pengamat kebudayaan Betawi, pelaku teater modern, dan lembaga-lembaga lainnya yang terkait dengan proses rekacipta.

6.    Tinjauan Pustaka
Pada tinjauan pustaka ini, peneliti menjabarkan beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan Lenong, tradisi lisan, proses rekacipta tradisi, teori adaptasi, dan transformasi. Penelitian mengenai teater Lenong sudah banyak dilakukan baik oleh mahasiswa S1, S2, maupun S3. Akan tetapi tidak banyak hasil penelitian yang terpublikasikan dengan baik sehingga dapat dibaca oleh publik. Salah satu penelitian mengenai Lenong yang akan dijadikan sumber tinjauan pustaka oleh penulis adalah penelitian Ninuk Kleden mengenai Lenong yang dibukukan dengan judul Teater Lenong Betawi Studi Perbandingan Diakronik (1996).
Penjelasan mengenai proses rekacipta tradisi banyak diulas oleh beberapa ahli. Istilah rekacipta hanyalah sebuah istilah lain yang digunakan untuk mewakili segala kreasi atau upaya pengubahan sebuah tradisi  ke dalam bentuk baru. Istilah ini digunakan oleh Yasmine Z. Shahab, seorang antropolog Universitas Indonesia.  
Penjelasan mengenai teori adaptasi, peneliti akan menggunakan referensi dari buku Linda Hutcheon yang berjudul A Theory of Adaptation (2000). Sedangkan referensi mengenai transformasi, penulis akan menggunakan penelitian Pudentia MPSS yang berjudul Transformasi Sastra : Analisis atas Cerita Rakyat Lutung Kasarung (1992).
6.1. Buku Teater Lenong Betawi: Studi Perbandingan Diakronik karya Ninuk            Kleden Probonegoro
Dalam buku Teater Lenong Betawi: Studi Perbandingan Diakronik (1996), Ninuk Kleden meneliti perkembangan teater Lenong pada tahun 1970-an sampai tahun 1990-an. Ninuk meneliti dua sanggar teater Lenong yang Sinar Subur dan Setia Kawan. Dalam penelitiannya, Ninuk menggunakan metode etnografi dengan menggunakan studi perbandingan diakronis. Yaitu penelitian yang mencoba merekam perkembangan dari masa ke masa. Dapat dikatakan, data-data yang disajikan Ninuk cukup lengkap. Begitupun dengan hasil pengamatan dan analisisnya.  Satu hal yang belum Ninuk sampaikan adalah amatannya mengenai perubahan di tataran struktur dan tata pemanggungan seperti penggunaan kostum, tata musik, artistik, properti, tata lampu, dll.
Penelitian Ninuk tersebut dapat dijadikan contoh bagi peneliti dalam meneliti lenong dengan menggunakan etnografi dengan cara diakronis. Khusus untuk penelitian yang akan dilakukan, peneliti lebih menyoroti berbagai perubahan terkait struktur dan tata pementasan. Sehingga dapat melengkapi penelitian Ninuk sebelumnya.
6.2. Buku Identitas Dan Otoritas Rekonstruksi Tradisi Betawi (2004) karya Yasmine Z Shahab
            Yasmine Z Shahab memaparkan proses rekacipta tradisi yang dilakukan di DKI Jakarta pada tahun 80-an. Dalam bukunya yang merupakan kumpulan esai dan penelitian tersebut, Shahab menjadikan konteks dari tradisi sebagai bahasan penelitian. Konteks yang dimaksud adalah masyarakat Betawi dan pemilik otoritas Betawi seperti pemerintah dan lembaga kebetawian. Dengan observasi langsung ke lapangan, Shahab menemukan banyak data mengenai masyarakat Betawi, terutama masyarakat Betawi . Di antaranya tentang kesadaran orang Betawi terhadap identitas dan eksistensinya di Jakarta yang masih inferior. Padahal masyarakat Betawi notabene penghuni asli kota Jakarta. Shahab pun meneneliti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga kebetawian yang dikategorikan sebagai program rekacipta. Shahab melihat bahwa ada hasil yang memuaskan dari program tersebut, karena mampu mengangkat eksistensi masyarakat Betawi.
Sama seperti Ninuk, Shahab juga belum mengetengahkan pembahasan rekacipta secara detil, terutama mengenai beberapa aspek teknis perubahan yang terjadi dalam Lenong. Bagaimana proses perubahan tersebut dipandang sebagai proses kreatif dan proses produktif seorang senimannya. Atas beberapa kekurangan tersebut, peneliti akan berusaha melanjutkan dan melengkapi penelitian sebelumnya.
6.3 Buku Transformasi Sastra : Analisis atas Cerita Rakyat Lutung Kasarung (1992) karya Pudentia, MPSS
Pudentia MPSS dalam penelitiannya yang berjudul Transformasi Sastra : Analisis atas Cerita Rakyat Lutung Kasarung (1992) menguraikan konsep transformasi dan penerapannya pada cerita Lutung Kasarung. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai proses transformasi dari cerita Lutung Kasarung yang ditulis oleh Pleyte ke dalam bentuk karangan Ajip Rosidi.
Transformasi kesastraan teks Lutung Kasarung diteliti oleh Pudentia dengan menggunakan teori hubungan intertekstual. Telaah hubungan antarteks ini mengacu pada teori Riffaterre dan teori terapan yang digunakan oleh Partini Sardjono Pardotokusumo atas karya sastra Kakawin Gajah Mada (1986). Ada empat teori penerapan hipogram yakni ekspansi, konversi, modifikasi, dan ekserp.
Konsep Transformasi ini digunakan untuk membandingkan teks (naskah). Dalam penelitian ini, konsep transformasi akan digunakan untuk membandingkan struktur pertunjukan antara Lenong dan Kombet.   

7. Landasan Teori
7.1. Tradisi Lisan
Penjelasan mengenai Tradisi lisan (oral tradition), telah diuraikan dalam banyak buku. Tokoh-tokoh pemikir tradisi lisan yang terkenal adalah Milman Perry, Walter J. Ong, Albert Bate Lord, dan Jan Vansina.
Dalam buku Oral Tradition as History (1985), Jan Vansina mendefinisikan tradisi lisan sebagai pesan verbal berupa pernyataan yang dilaporkan dari masa silam kepada generasi masa kini. Pesan tersebut disampaikan melalui kelisanan berupa pernyataan yang dituturkan, dinyanyikan, atau diiringi alat musik. Selain itu syarat bahwa sebuah sesuatu dikatan tradisi adalah bahwa proses penyampaian dan pewarisannya telah dilakukan sekurang-kurangnya sejarak satu generasi. (1985:17-18).
Dalam buku tersebut, Vansina menampilkan sarana-sarana sistematik untuk mengidentifikasi, mengumpulkan dan menafsirkan tradisi-tradisi lisan dalam rangka menemukan aspek-aspek masa lampau, terutama di tempat yang tidak memiliki dokumentasinya secara tertulis.
Tradisi secara sederhana diartikan sebagai adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Dalam bidang sejarah, tradisi berarti adat istiadat, ritus-ritus, ajaran-ajaran sosial, pandangan-pandangan, nilai-nilai, aturan-aturan, perilaku-perilaku yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi merupakan unsur warisan sosio-kultural yang dilestarikan dalam masyarakat atau dalam kelompok sosial masyarakat dalam kurun waktu yang panjang. Tradisi bersifat progresif kalau dihubungkan dengan perkembangan kreatif kebudayaan tetapi tradisi bersifat reaksioner kalau ia berkaitan dengan sisa-sisa yang sudah usang dari unsur-unsur budaya masa lampau. Dalam ranah ilmu, tradisi berarti kontinuitas pengetahuan dan metode-metode penelitian. Sedangkan dalam dunia seni, tradisi berarti kesinambungan gaya dan keterampilan.
Sal Murgiyanto dalam bukunya Tradisi dan Inovasi (2004) menyatakan bahwa sebuah tradisi adalah segala sesuatu yang diwarisi dari masa lalu. Tradisi akan tetap dilakukan dan diteruskan selama pendukungnya masih melihat manfaat dan masih menyukainya. Tradisi sebagai milik masyarakat dipahami sebagai kebiasaan turun temurun yang diatur dalam nilai-nilai atau norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Pudentia (2000), mengungkapkan bahwa dalam tradisi lisan, unsur kelisanan memiliki peran yang sangat penting. Kemampuan penutur dalam mengingat tradisi menjadi perhatian penting. Kelisanan dalam teater Lenong terlihat dari dominannya para aktor membangun dialog secara spontan dan berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Spontanitas dalam tradisi lisan disebutkan oleh Albert Bate Lord dalam tulisannya yang berjudul “Characteristics of Orality”  dalam jurnal Oral Tradition, 2/1 (1987): 54-72 bahwa karakteristik kelisanan salah satunya spontanitas. Menurut Lord, proses penciptaan puisi lisan berlangsung pada saat pertunjukan.
Walter J. Ong dalam buku Orality and Literacy (New Accent, 2002) menyebutkan beberapa karakteristik kelisanan. Ong menyebutnya dengan istilah budaya lisan primer. Karakteristik tersebut yaitu:
1.    Expression is additive rather than subordinative.
2.    It is aggregative rather than analytic.
3.    It tends to be redundant or "copious."
4.    There is a tendency for it to be conservative.
5.    Out of necessity, thought is conceptualized and then expressed with relatively close   reference to the human lifeworld.
6.    Expression is agonistically toned.
7.    It is empathetic and participatory rather than objectively distanced.
8.    It is Homeostatic.
9.    It is situational rather than abstract. (2002:36-56)
Semua karakteristik di atas dapat meningkatkan memorability ucapan. Ong menjelaskan bahwa akan menjadi sangat penting bagi mereka yang mencoba untuk menghafal sebuah puisi atau dongeng karena, sedangkan masyarakat literer selalu dapat merujuk kembali ke teks tertulis. Masyarakat lisan harus dapat memproses dan menghafal, informasi yang disampaikan dapat berubah, diperbaiki sesuai kebutuhan dan apa yang ada dalam ingatan. Ong menjelaskan bahwa antara dunia kelisanan dan keberaksaraan adalah saling melengkapi. Tidak ada yang lebih unggul di antara keduanya.
7.2. Rekacipta Tradisi
Yasmine Z Shahab (2004) mengetengahkan istilah Rekacipta. Istilah ini digunakan untuk menandai program-program yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga kebetawian dalam upayanya menghidupkan kembali seni tradisi Betawi yang hampir punah. Shahab memaparkan beberapa poin mengenai identitas masyarakat Betawi dan berbagai proses rekacipta tradisi Betawi. Shahab memandang bahwa posisi orang Betawi ternyata tidaklah dominan di Jakarta. Namun demikian, Shahab mengamati bahwa ada gejala yang kuat akan kebangkitan kembali orang Betawi, yang tengah menggeliat menemukan kembali identitas “kebetawiannya“.
Istilah rekacipta yang disebut oleh Shahab mengacu pada istilah invention yang tulis dalam buku The Invention of Tradition (2000) yang dieditori olej Eric Hobsbawn dan Terence Ranger. Buku tersebut memuat tujuh buah esai tentang tradisi yang diciptakan di berbagai negara, daerah dan koloni, yang sebagian besar berkaitan dengan Inggris.
Dalam catatan Hobsbawn (2000) “Invention of Traditions’ menarik minat para sejarawan selama dua abad terakhir. Menurutnya, rekacipta tradisi tersebut memiliki keunikan karena rekacipta yang ada sebagian besar adalah tiruan dari tradisi lama. Lahirnya tradisi baru merupakan sebuah tanggapan terhadap situasi baru. Bentuknya mengacu pada situasi lama. Bentuk yang baru tersebut adalah hasil sebuah perubahan yang alamiah karena perubahan sosial ditambah inovasi dari dunia modern.
The peculiarity of 'invented' traditions is that the continuity with it is largely factitious. in short, they are responses to novel situations which take the form of reference to old situations, or which establish their own past by quasi-obligatory repetition. it is the contrast between the constant change and innovation of the modern world and the attempt to structure at least some parts of social life within it as unchanging and invariant, that makes the 'invention of tradition' so interesting for historians of the past two centuries. (2)
    Eric Hobsbawn (2000) menekankan bahwa tradisi yang dimaksud bukanlah sebuah ‘adat’ yang menjadi karakteristik masyarakat tradisional. Menurut Hobsbawn, “Custom cannot afford to be invariant, because even in 'traditional' societies life is not so.” (2)
Dalam tulisan Hugh Trevor-Roper (2000) yang berjudul "The Invention of Tradition: The Highland Tradition of Scotland” dijelaskan bahwa Skotlandia berusaha melestarikan warisan budaya yang dimilikinya ketika terjadi proses unifikasi dengan Inggris. Secara khusus, ia meneliti asal-usul dari Skotlandia dan mode pakaian tradisional. Proses penciptaan tersebut dengan cepat diterima dan dikuduskan oleh rakyat Skotlandia. Tradisi yang memiliki banyak identitas tersebut identik dengan pemalsuan dan fantasi. Tradisi tersebut diciptakan oleh orang-orang yang merasa perlu di mana Skotlandia untuk memiliki budaya unggul di Kepulauan Inggris saat ini.
Menurut Hobsbawn (2000) rekacipta tradisi memiliki tiga fungsi yakni membentuk ikatan sosial di antara para anggotanya, meligitimasi status dan otoritas, dan proses konvensi nilai dan perilaku. Ketiga fungsi tersebut jelas terlihat dalam beberapa proses rekacipta yang terjadi di berbagai wilayah yang berhubungan dengan kolonialisme Inggris.
Dalam esai Eric Hobsbawn sebagai penutup buku ini (2000) Hobsbawm menghubungkan penemuan tradisi dengan fenomena abad ke-19 dan ke-20 di mana terjadi fase terbentuknya Negara dan nasionalisme. Ia menemukan bahwa tradisi yang diciptakan secara signifikan di hampir setiap negara dalam periode tersebut, memang untuk melegitimasi kelahiran dan kekuasaan.
7.3. Teori Adaptasi
Kajian mengenai Teori Adaptasi ditulis oleh Linda Hutcheon dalam buku A theory of Adaptation (2006). Menurut Hutcheon (2006) adaptasi adalah kegiatan sekunder setelah yang kegiatan aslinya. Hutcheon menyebutkan:
“When we call a work an adaptation, we openly announce its overt relationship to another work or works” (6).  
Adaptasi bersifat universal dan dapat diulang-ulang dengan berbagai variasi yang dilakukan terus-menerus. Dengan pengulangan tersebut Hutcheon percaya bahwa karya adapatasi mampu menarik minat karena karya yang disajikan terkenal. Menurut Hutcheon (2006) ada banyak bentuk adaptasi dan masing-masing produsen akan mengadaptasi sebuah teks asli dengan cara mereka sendiri yang unik.
“They use the same tools that storytellers have always used; they actualize or concretize ideas; they make simplifying selections, but also amplify and extrapolate, they make analogies; they critique or show their respect, and so on” (3)
Produsen dapat mengubah cerita agar sesuai dengan genre baru atau melakukan twist baru yang akan membuat penonton tertarik. Menurut Hutcheon (2006) ada unsur-unsur yang harus disesuaikan dalam adaptasi. Misalnya, masalah tema. Tema yang diangkat haruslah tema-tema yang mudah diadaptasi di genre yang berbeda. Karakter dalam cerita mudah dibawa sesuai karya aslinya, sedangkan pada bagian ending bisa berubah.
Hal penting  lain adalah bahwa seorang adaptor haruslah sebagai penafsir pertama yang kemudian menjadi pencipta (2006:16). Jadi, adaptor harus melakukan tafsir yang mendalam untuk kemudian membuat tafsiran baru dalam karya yang akan dibuatnya.


7.4    Transformasi
Konsep transformasi digunakan oleh Pudentia MPSS (1992) dalam meneliti teks Lutung Kasarung. Penelitian tersebut menggunakan teori penerapan hipogram sebagai naskah asal. Teori penerapan hipogram itu adalah:
7.4.1 Ekpansi.
Menurut Riffaterre (1978) ekspansi adalah “expantion transform the  constituets of the matrix sentence into more complex form” (47-48). Dari pengertian tersebut perubahan menjadi poin penting. Menurut Pudentia (1992:72) dalam hasil analisisnya terhadap Lutung Kasarung, ekspansi juga dapat berarti penambahan terhadap unsur semula yang asalnya tidak ada.
7.4.2 Konversi
Menurut Riffatere (1978) Konversi dinyatakan sebagai berikut:
Conversion transforms the constituents of the matrix sentence by modifying them all with the  same factor (63). Yang bila diteterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti konversi mengubah unsur-unsur kalimat matriks dengan memodifikasinya dengan sejumlah faktor yang sama.
Proses konversi ini digunakan Riffaterre hanya pada tataran morfologi dan fonologi. Menurut Riffatere (1978) konversi lebih ditujukan ketika transformasi meliputi tataran morfologi dan fonetik, seperti paronomasia dan anapora, tetapi ini tidak mengacu satu kejadian tertentu saja.
Pudentia (1992:72) menyatakan “Pada analisis Latung Kasarung penerapan konversi menurut batasan-batasan tersebut perlu ditinjau ulang, karena Latung Kasarung merupakan karya saduran dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia.  Dalam karya semacam ini, ekspansi tampak lebih berperan.
7.4.3 Modifikasi dan Ekserp
Pudentia menyatakan, Modifikasi merupakan manipulasi pada tataran linguistik, yaitu manipulasi kata atau urutan kata dalam kalimat pada tataran kesastraan, yaitu manipulasi tokoh protagonis atau alur sehubungan dengan kenyataan bahwa Lutung Kasarung merupakan karya saduran sekaligus karya terjemahan dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia. Manipulasi pada tataran linguistik perlu memperhatikan masalah semantik dan sekaligus juga masalah estetika bahasa. Sedangkan pada tataran kesastraan, selain dipengaruhi oleh tuntutan zaman dipengaruhi pula oleh adanya perubahan tokoh wanita dari sekedar tokoh pendamping menjadi tokoh utama (Pudentia,1992:72)
Menurut Pudentia, ekserp diartikan semacam intisari suatu unsur atau episode dari  hipogram (1992:73).
Pada intinya menurut Pudentia, konsep transformasi terbagi menjadi dua bentuk yaitu transformasi lintas-budaya dan lintas bentuk. Transformasi lintas budaya dimaksudkan sebagai perubahan yang berorientasi pada dua budaya yang berbeda, sedangkan transformasi lintas bentuk dimaksudkan sebagai perubahan antarbentuk atau dari satu bentuk ke bentuk lain.

8. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Etnografi yang dipadukan dengan cara penulisan Autobiografi atau dikenal juga dengan istilah otoetnografi telah banyak dibahas dan digunakan oleh peneliti. Arthur P. Bochner dan Carolyn Ellis menulis buku yang berjudul Ethnographically Speaking, Autoethnography, Literature and Aesthetics (2002).
Ellis & Bochner (2002) mendefinisikan otoetnografi sebagai “autobiographies that self-consciously explore the interplay of the introspective, personally engaged self with cultural descriptions mediated through language, history, and ethnographic explanation”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa otoetnografi adalah model penelitian etnografi yang mengungkap keterlibatan peneliti dalam objek budaya yang ditelitinya. Keterlibatan tersebut misalnya saat seorang peneliti menjadi pelaku budaya yang ditelitinya. Pengamatan mereka "yang menghubungkan pribadi dengan budaya" adalah karakter penting dari otoetnografi.
Menurut Carolyin Ellis sebagaimana dikutip oleh Semiarto A Purwanto (2011) pengalaman pribadi peneliti dapat menjadi bagian dari data etnografi yang ditulis, meskipun hal itu dialaminya pada saat yang berbeda dengan fieldwork yang dia lakukan. Eliis & Bochner (2002) mensyaratkan berbagai kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang peneliti otoetnografi. Kemampuan tersebut adalah: memiliki pengetahuan yang luas untuk dapat diceritakan pada orang lain, memiliki kemampuan menulis yang baik, mengamati atau merecall kembali memori masa lampau, dan mengategorikannya dalam satuan makna baru.
Dengan menggunakan metode Otoetnografi, peneliti akan memulai penelitian dengan mengamati beberapa sanggar Lenong dan para panjaknya dengan persfektif etnografi. Dalam mengamati sanggar Lenong dan para panjaknya, peneliti akan menggunakan model penelitian Ninuk Kleden yang menggunakan etnografi dengan perbandingan diakronik. Peneliti menggunakan model penelitian ini dalam mengkaji perkembangan teater Lenong dikaitkan dengan perubahannya menjadi pertunjukan Kombet. Peneliti akan melakukan pengamatan mengenai perubahan-perubahan Lenong seiring perkembangan zaman, terutama sejak tahun 1990-an sampai masa kekinian.
Perubahan-perubahan yang terjadi akan dianalisis dan dikaji dengan teori rekacipta, apakah perubahan-perubahan tersebut sudah dapat digolongkan ke dalam rekacipta atau belum. Untuk mengetahui perubahan-perubahan tersebut, teori transformasi digunakan.
Setelah proses analisis dan pengkajian peneliti menuliskan laporan dengan menggunakan teknik autobiografi. Memasukkan persfektif pribadi, di mana peneliti sebagai salah satu objek yang diteliti.  

9. Langkah-langkah Penelitian
Dalam melakukan penelitian, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.    Pengumpulan data utama (primer), berupa rekaman audio visual pertunjukan, dan transkripsi naskah dalam pertunjukan (lakon) yang sejatinya tidak ada dalam lenong.
2.    Pengumpulan data sekunder berupa teks-teks mengenai lenong dan perubahan-perubahannya. Data tersebut dapat diperoleh dari buku, artikel, makalah, atau berita baik cetak maupun elektronik (virtual) dari internet.
3.    Pengumpulan data sekunder juga dilakukan secara etnografis dengan dilakukan pengambilan data melalui observasi terhadap pertunjukan-pertunjukan yang ada.
4.    Catatan etnografis juga didapat dari wawancara baik langsung maupun tidak langsung dengan para panjak (seniman lenong), pihak pemerintah (dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta), lembaga-lembaga kesenian dan kebudayaan Betawi, para pengamat kebudayaan Betawi, pelaku teater modern, dan lembaga-lembaga lainnya yang terkait dengan proses rekacipta.
5.    Analisis data dilakukan dengan menelaah data primer dan sekunder, yang difokuskan pada wacana perubahan yang terjadi dalam lenong menuju bentuk-bentuk yang baru.
6.    Hasil analisis dikaitkan dengan studi pustaka, wawancara, dan observasi untuk mendapatkan pemaparan yang lebih komprehensif dan dapat menarik kesimpulan mengenai proses rekacipta Kombet sebagai wujud perubahan dari lenong.

10.  Sistematika Penulisan
    Hasil penelitian  ini akan diuraikan dalam lima bab. Dalam bab satu akan diuraikan latar belakang penelitian, yang terdiri dari uraian mengenai perkembangan Lenong di Jakarta, uraian mengenai beberapa perubahan format Lenong seiring perubahan sosial di Jakarta, uraian mengenai munculnya Kombet dan pembahasan mengenai permasalahan. Dari permasalahan yang ada, dirumuskan masalah yang akan diteliti. Setelah itu, ditentukan tujuan penelitian, korpus penelitian, yaitu 6 sanggar Lenong: Sinar Subur, Setia Kawan, Sinorai, opelet Robert, Sanggar si Pitung dan Sanggar Kombet. Dari korpus tersebut diperoleh data yang dapat dijadikan sumber data penelitian. Tinjauan pustaka dan landasan teori dalam penelitian ini adalah sejumlah referensi mengenai penelitian lenong, tradisi lisan, teori adaptasi, transformasi, dan konsep rekacipta. Melalui teori-teori tersebut, akan dianalisis mengenai perubahan lenong ke dalam bentuk yang baru. Metode penelitian memaparkan langkah-langkah penelitian dan bagaimana hasil penelitian ditulis dengan teknik autobiogarfi.
Bab kedua menguraikan kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini. Kerangka teori meliputi konsep tradisi lisan, rekacipta tradisi, transformasi, dan teori adaptasi.
Bab tiga menguraikan tentang konteks masyarakat Betawi. Bagaimana potret masyarakat Betawi DKI Jakarta. Bagaimana identitas masyarakat Betawi di DKI Jakarta dan relasinya dengan kehidupan sosial di Jakarta, serta bagaimana perkembangan sanggar-sanggar lenong yang diteliti di tengah gencarnya perubahan sosial di Jakarta.
Bab keempat berisi mengenai proses adaptasi dan strategi adaptasi lenong terhadap zaman. Sejauhmana sanggar-sanggar Lenong mampu mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan sosial Jakarta yang cepat. Selain itu pada bab ini akan diuraikan latar belakang berdirinya kombet sebagai bentuk rekacipta dari teater Lenong.            
Bab kelima adalah kesimpulan dan saran yang diajukan terkait hasil penelitian mengenai rekacipta Kombet ini.


Readmore »

 

SEL SURYA

SEL SURYA